Jet tempur Rafale B pertama yang diperuntukkan bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) telah terpantau di fasilitas produksi Dassault Aviation di Bordeaux, Prancis, pada 30 Juli 2025. Pesawat berkode T-0301 ini kemudian menjadi bukti kemajuan dari kontrak pembelian alutsista strategis Indonesia dengan Prancis yang telah ditandatangani sejak Februari 2022, dimana Indonesia sebelumnya diketahui memesan total 42 unit Rafale varian F4, yang terdiri atas 30 versi kursi tunggal dan 12 versi tandem dua kursi, dengan nilai kontrak mencapai sekitar US$8,1 miliar.
Pesanan tersebut dibagi dalam tiga tahap, dimulai dengan enam unit pertama yang kontraknya diaktifkan pada September 2022, disusul 18 unit pada Agustus 2023, dan 18 unit berikutnya pada Januari 2024. Saat ini, enam pesawat sedang dalam tahap produksi aktif, dan pengiriman unit pertama dijadwalkan pada awal 2026. Dengan munculnya pesawat perdana ini, diperkirakan bahwa jadwal pengiriman akan berlangsung tepat waktu.
Sementara itu, kerja sama pertahanan Indonesia dan Prancis terus berkembang. Pada kunjungan Presiden Emmanuel Macron ke Jakarta pada Mei 2025, kedua negara menandatangani Letter of Intent (LoI) di berbagai bidang strategis, termasuk rencana pembelian tambahan Rafale, kapal selam Scorpène buatan Naval Group, dan frigat ringan.
Langkah pengadaan Rafale ini kemudian menjadi bagian penting dari upaya modernisasi alutsista nasional, menggantikan armada pesawat tempur lama seperti F-16 dan Sukhoi Su-27/30 yang mulai menua. Selain itu, pemerintah juga mendorong kerja sama industri pertahanan melalui PT Dirgantara Indonesia (PTDI), termasuk proyek kerja sama pesawat tempur generasi kelima KAAN bersama Turkish Aerospace Industries (TAI), yang berpotensi mencapai pesanan 48 unit jika kerja sama final. Dengan demikian, kehadiran Rafale tidak hanya memperkuat daya tangguh udara Indonesia, tetapi juga menunjukkan komitmen kuat terhadap penguatan pertahanan dan diplomasi strategis di kawasan Indo-Pasifik.