Pada 1 September 2026, ABC News melaporkan bahwa Kementerian Pertahanan (Kemhan) Jepang telah mengajukan anggaran pertahanan baru kepada Parlemen Nasional sebesar USD 55,6 miliar sebagai bagian dari upaya pembangunan postur pertahanan nasional. Dalam anggaran baru ini, Kemhan Jepang berencana untuk menginvestasikan sebagian besar bujet tersebut untuk mengembangkan kapabilitas drone dan sistem kecerdasan buatan (AI) guna mempersiapkan diri dalam menghadapi perang masa depan. Selain mengembangkan kedua kapabilitas tersebut, Jepang juga akan menginvestasikan setidaknya USD 1 miliar dari anggaran tersebut untuk mengembangkan rudal hipersonik serta kendaraan yang dapat meluncurkannya. Dilansir dari Anadolu, Kemhan Jepang menyatakan bahwa pengembangan kapabilitas ini memiliki tujuan untuk meningkatkan efektivitas tempur Pasukan Pertahanan Jepang (JSDF) sekaligus mengurangi resiko yang diberikan kepada prajurit yang mengoperasikannya.
Selain mengembangkan kapabilitas asimetris seperti drone, AI, dan rudal hipersonik, anggaran ini juga mencakup ambisi untuk memperkuat kapabilitas konvensional JSDF dengan membeli rudal dari penyedia mancanegara serta mengembangkan desain yang tersedia. Hal ini dapat dilihat dengan adanya rencana pembelian rudal anti-radar AGM-88G AARGM-ER buatan Northrop Grumman serta memodifikasi rudal anti-kapal ASM-3M sebagai senjata anti-udara. Akuisisi dan pengembangan kedua rudal ini merupakan sebuah lompatan besar bagi kapabilitas pertahanan Jepang karena hal tersebut akan memberikan mereka kemampuan untuk menghancurkan instalasi radar dan aset udara strategis seperti pesawat tanker dalam jarak jauh. Selain itu, modifikasi ASM-3 sebagai rudal anti-udara jarak jauh juga akan memberikan Jepang prestise baru karena mereka akan menjadi salah satu negara selain Rusia, China, dan Amerika Serikat yang berhasil mengembangkan rudal anti-udara jarak jauh.
Pengajuan anggaran pertahanan baru ini merupakan bagian dari upaya pemerintahan Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi untuk mengembangkan kapabilitas tempur mereka akibat dari ketegangan di kawasan Indo-Pasifik yang semakin meningkat. Dalam pengembangan kapabilitas ini, Jepang memitigasi kekurangan SDM mereka dengan mengutamakan superioritas teknologi agar mereka dapat menghadapi rival seperti China, Rusia, dan Korea Utara. Menanggapi penekanan ini, pakar pertahanan Jepang Masashi Murano menyatakan bahwa walaupun hal ini merupakan keputusan radikal, JSDF harus mempertimbangkan alokasi personel untuk mempertahankan kesiapan operasional dan memelihara persenjataan tanpa awak.