Pada 29-30 Agustus 2026, beberapa elemen dari Militer Niger melancarkan kudeta terhadap junta militer Jenderal Abdourahamane Tchiani dengan menguasai beberapa fasilitas militer dan sipil penting di Ibukota Niamey seperti Pangkalan Udara 101 dan Istana Kepresidenan. Tidak lama setelah menguasai Pangkalan Udara 101 dan kamp pasukan terjun payung di Niamey, para pemberontak yang mendeklarasikan diri sebagai Komite Militer Untuk Pemulihan Ibu Pertiwi menyatakan bahwa Jenderal Tchiani telah digulingkan dan konstitusi negara dihapuskan. Akan tetapi tidak lama setelah pengumuman tersebut, Jenderal Tchiani meminta bantuan kepada Korps Afrika Rusia untuk menumpas upaya kudeta dan mengkonsolidasikan ulang kekuasaannya terhadap wilayah ibukota. Setelah meminta bantuan tersebut, Korps Afrika Rusia melancarkan serangan kilat dengan bantuan udara signifikan dan mereka berhasil menumpas upaya kudeta tersebut.
Tidak lama setelah upaya kudeta berakhir, Menteri Pertahanan (Menhan) Niger Jenderal Salifou Mody menyatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa telah terjadi sebuah upaya kudeta di ibukota namun saat ini pasukan loyal telah menguasai markas para pemberontak. Menhan Mody menambahkan dalam upaya ini, para pemberontak menembak fasilitas sensitif seperti gedung pemerintahan, gedung militer, dan pos penjaga secara membabi buta. Dilansir dari Al-Jazeera, TV nasional Niger merilis video yang menunjukkan prajurit pemberontak menyerah kepada pasukan loyalis ataupun anggota Korps Afrika Rusia. Menanggapi perkembangan ini, Algeria mengecam upaya kudeta dan menyampaikan dukungan penuh terhadap junta militer Jenderal Tchiani. Sebagai bentuk dari dukungan tersebut, Algeria mengirimkan setidaknya empat pesawat tempur multiguna Su-30 untuk membantu junta Jenderal Tchiani kembali mengkonsolidasikan kekuasaannya. Di sisi lain, Kemhan Rusia menyatakan bahwa upaya kudeta berhasil digagalkan berkat bantuan yang diberikan oleh Korps Afrika Rusia terhadap pasukan loyalis Jenderal Tchiani.
Upaya kudeta ini merupakan salah satu dari rangkaian aksi serupa yang sering terjadi dalam sejarah Niger sejak tahun 1960. Dilansir dari Bangkok Post, upaya kudeta ini dapat dianggap sebagai respon dari beberapa elemen militer terhadap memperburuknya situasi keamanan di Niger dan kawasan Sahel akibat dari meningkatnya aktivitas kelompok teroris. Hal ini dapat dilihat pada awal 2026 saat kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) kawasan Sahel dan Al-Qaeda kawasan Sahel (JNIM) melancarkan serangan terhadap Bandara Udara Niamey.