Menhan Jepang Dorong Perdebatan Tentang Pengembangan Senjata Nuklir
Pada 19 Juli 2026, Menteri Pertahanan (Menhan) Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan dalam sebuah kegiatan daring bahwa Jepang membutuhkan debat terbuka tentang prospek pengembangan senjata nuklir. Menurut Menhan Koizumi perdebatan ini diperlukan karena saat ini Jepang sedang menghadapi situasi keamanan yang cukup kompleks dan hal ini mendesak diadakannya diskusi tentang topik yang sebelumnya dianggap tabu. Koizumi menambahkan bahwa hal ini tidaklah unik dengan memberikan Eropa sebagai contoh dalam bagaimana mereka mengembangkan postur penggentaran nuklir pasca invasi Rusia terhadap Ukraina di tahun 2022. Dalam pengembangan postur ini, Prancis meningkatkan jumlah rudal balistik, hulu ledak nuklir, dan sistem peluncur rudal nuklir sementara negara non-nuklir seperti Finlandia memberikan negara sekutu izin untuk menyimpan senjata nuklir di wilayah nasional mereka.
Tidak lama setelah memberikan pernyataan tersebut, kanal berita Jepang Asahi Shimbun merilis sebuah artikel yang menganggap bahwa pernyataan Menhan Koizumi merupakan upaya pemerintah untuk menimbang ulang tiga prinsip non-nuklir. Dalam prinsip ini, Jepang berkomitmen untuk tidak memiliki, memproduksi, atau menempatkan persenjataan nuklir sekutu di wilayah nasional mereka sebagai bentuk dari janji untuk mencapai perdamaian dunia. Dilansir dari Japan Times, retorika yang disampaikan oleh Menhan Koizumi berbeda dari pernyataan yang disampaikan oleh pemerintahan sebelumnya yang secara historis konsisten berkomitmen untuk mempertahankan kebijakan tersebut. Selain Menhan Koizumi, pernyataan ini telah diutarakan oleh beberapa pejabat kabinet Perdana Menteri (PM) Sanae Takaichi karena terdapat konsensus bahwa skenario Ukraina juga dapat terjadi di kawasan Indo-Pasifik.
Hal ini merupakan sesuatu yang cukup wajar karena keinginan mengamandemen kebijakan tiga prinsip non-nuklir merupakan bagian dari agenda PM Sanae Takaichi untuk merombak ulang tata kelola pertahanan Jepang. Dalam perombakan ulang ini, PM Takaichi telah menyampaikan keinginan untuk menafsirkan ulang tiga prinsip non-nuklir karena menurutnya hal tersebut dapat menjadi hambatan jika Jepang menghadapi krisis ekstrim. Upaya ini telah mendapatkan dukungan dari Partai Inovasi Jepang (JIP) yang merupakan mitra koalisi PM Takaichi di Parlemen Nasional Jepang. Dukungan tersebut diberikan dengan sebuah proposal yang mendorong pemerintah Jepang untuk meninjau kebijakan tiga prinsip non-nuklir secara realistis dan pentingnya mempertahankan payung nuklir Amerika Serikat sebagai perlindungan.