Dunia tampaknya sedang bergerak menuju fase baru sejarah global. Selama lebih dari tujuh dekade setelah Perang Dunia II, Amerika Serikat berdiri sebagai kekuatan dominan dunia, baik secara ekonomi, militer, teknologi, maupun politik. Namun memasuki 2026, tanda-tanda retaknya dominasi Amerika semakin terlihat. Pada saat yang sama, China tampil sebagai kekuatan yang bukan lagi sekadar “mengejar”, melainkan mulai membangun fondasi untuk memimpin tatanan global baru.
Perubahan ini tidak terjadi begitu saja karena lahir dari kombinasi melemahnya kredibilitas Barat dan menguatnya pengaruh ekonomi-politik China di berbagai kawasan dunia. Dalam survei MERICS China Forecast 2026 terhadap 766 pakar dan pengamat China global, hampir 80 persen responden meyakini China akan membuat kemajuan besar dalam kecerdasan buatan (AI), sementara lebih dari separuh optimistis terhadap kemajuan China di sektor semikonduktor, bioteknologi, dan teknologi hijau. Ini menunjukkan bahwa upaya Amerika membatasi akses China terhadap chip dan teknologi tinggi belum sepenuhnya berhasil menghentikan laju Beijing.
Di sisi lain, Amerika justru menghadapi persoalan internal yang serius. Polarisasi politik, ketidakpastian arah kebijakan luar negeri, hingga munculnya kembali gaya politik transaksional Donald Trump membuat banyak negara mulai mempertanyakan konsistensi kepemimpinan Washington. Foreign Affairs bahkan menyebut kondisi ini sebagai gejala “competitive authoritarianism”, yaitu situasi ketika demokrasi mulai terkikis oleh kepentingan kekuasaan domestik.
Dalam teori transisi kekuatan (Power Transition Theory) yang dikembangkan A.F.K. Organski, menjelaskan bahwa konflik global cenderung muncul ketika kekuatan dominan dunia mulai melemah sementara kekuatan baru tumbuh mendekati atau bahkan melampaui hegemon lama. Dalam konteks hari ini, Amerika Serikat adalah hegemon lama, sedangkan China merupakan rising power yang sedang memperluas pengaruhnya secara sistematis.
China memahami bahwa kekuatan global modern tidak hanya dibangun melalui militer, tetapi juga melalui teknologi, perdagangan, dan diplomasi. Karena itu, Beijing tidak hanya memperkuat angkatan bersenjata, tetapi juga membangun dominasi rantai pasok global, AI, kendaraan listrik, hingga mineral tanah jarang. Saat ini China menguasai sebagian besar produksi dan pemrosesan rare earth yang sangat penting bagi industri teknologi dunia. Ketergantungan Amerika terhadap pasokan tersebut membuat Beijing memiliki posisi tawar strategis yang sangat besar.
Dalam perspektif teori transisi kekuatan, kondisi ini berbahaya karena hegemon lama biasanya tidak rela kehilangan dominasinya. Amerika melihat kebangkitan China bukan semata kompetisi ekonomi, tetapi ancaman terhadap tatanan dunia yang selama ini dipimpinnya. Itulah sebabnya perang dagang, pembatasan teknologi, hingga penguatan aliansi militer Indo-Pasifik terus dilakukan Washington.
Akibatnya, dunia kini mulai terbagi ke dalam dua gerbong besar.
Gerbong pertama dipimpin Amerika Serikat bersama sekutu tradisionalnya seperti NATO, Jepang, Korea Selatan, Australia, dan sebagian besar negara Barat. Gerbong ini menekankan demokrasi liberal, keamanan kolektif, dan mempertahankan dominasi Barat dalam sistem internasional. Amerika juga terus memperkuat QUAD dan AUKUS sebagai strategi membendung pengaruh China di Indo-Pasifik.
Sementara itu, gerbong kedua perlahan dipimpin China dengan dukungan Rusia serta banyak negara Global South. Melalui Belt and Road Initiative (BRI), BRICS, dan penguatan kerja sama dengan Afrika, Timur Tengah, serta Asia Tenggara, China mencoba membangun tatanan ekonomi alternatif yang tidak terlalu bergantung pada Barat. Hubungan Beijing-Moskow juga memperlihatkan bahwa kedua negara memiliki kepentingan yang sama: menantang dominasi Amerika.
Meski demikian, China sebenarnya menghadapi paradoks besar. Di satu sisi, pengaruh diplomatiknya meningkat tajam. Lowy Institute mencatat pengaruh diplomatik China mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah Asia Power Index. Namun di sisi lain, pendekatan agresif Beijing terhadap Taiwan, Laut China Selatan, hingga Jepang justru menimbulkan ketakutan baru di kawasan.
Taiwan menjadi titik paling rawan dalam konflik ini. Xi Jinping secara terbuka menegaskan bahwa reunifikasi nasional adalah “tren sejarah yang tidak dapat dihentikan.” Pernyataan itu bukan sekadar simbolik. China terus meningkatkan latihan militer di sekitar Taiwan dan memperkuat kemampuan invasi amfibinya. Amerika pun merespons dengan penjualan senjata miliaran dolar kepada Taipei dan peningkatan kehadiran militernya di Indo-Pasifik.
Situasi ini mengingatkan dunia pada era Perang Dingin, tetapi dengan bentuk yang berbeda. Jika dahulu pertarungan terjadi antara kapitalisme dan komunisme Soviet, kini pertarungan terjadi antara dominasi Barat melawan model otoritarianisme kapitalistik ala China. Bedanya, dunia saat ini jauh lebih saling terhubung secara ekonomi sehingga konflik terbuka akan menimbulkan dampak global yang sangat besar.
Selain Taiwan, perang Rusia-Ukraina juga menjadi arena perebutan pengaruh baru. China memang tidak terlibat langsung, tetapi dukungannya terhadap Rusia menunjukkan bahwa Beijing sedang menguji batas kekuatan Barat. Ketika Amerika dan Eropa menghabiskan sumber daya besar untuk Ukraina, China justru memperluas pengaruh ekonominya di berbagai wilayah dunia.
Namun, mengatakan bahwa China akan sepenuhnya menggantikan Amerika juga terlalu dini. Ekonomi China masih menghadapi masalah serius seperti pengangguran kaum muda, krisis properti, penurunan angka kelahiran, dan arus keluar modal. Bahkan banyak analis menilai model ekonomi Beijing terlalu berfokus pada manufaktur sambil melemahkan sektor jasa yang justru menyerap tenaga kerja besar.
Karena itu, dunia kemungkinan tidak akan langsung memasuki “abad China” secara penuh, melainkan era multipolar yakni situasi ketika tidak ada satu negara yang benar-benar dominan. Amerika masih sangat kuat secara militer dan finansial, tetapi China terus mendekat dalam pengaruh ekonomi dan teknologi. India juga mulai muncul sebagai kekuatan baru yang diperhitungkan.
Meski begitu, satu hal tampak jelas di mana dominasi absolut Amerika seperti era 1990-an perlahan mulai retak. Negara-negara kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Washington. Banyak negara memilih bersikap pragmatis dengan menjaga hubungan sekaligus dengan Amerika dan China. Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan lagi apakah China akan bangkit. China sudah bangkit. Pertanyaan sesungguhnya adalah apakah dunia mampu menghadapi transisi kekuatan ini tanpa jatuh ke dalam konflik besar?
Sejarah menunjukkan bahwa transisi kekuasaan global hampir selalu disertai ketegangan, bahkan perang. Jika Amerika dan China gagal mengelola rivalitas mereka secara rasional, maka abad ke-21 bukan hanya menjadi era kebangkitan China, tetapi juga era paling berbahaya bagi stabilitas dunia modern.