Pemerintah China menuding Amerika Serikat sengaja memicu kepanikan global denganmengkritik kebijakan kontrol ekspor logam tanah jarang (rare earth) Beijing. China menyangkal tuduhan bahwa kontrol ekspor itu bertujuan untuk mendominasi rantai pasok, dan menyebut bahwa kebijakan tersebut sah serta selaras dengan praktik perdagangan internasional.
Langkah terbaru Beijing untuk memperluas daftar elemen rare earth yang dikontrol serta menetapkan persyaratan lisensi ekspor yang lebih ketat; terutama terhadap barang yang menggunakan bahan China atau teknologi pemrosesan tertentu, dikabarkan akan mulai berlaku pada 8 November 2025. Meski begitu, juru bicara Kementerian Perdagangan China, He Yongqian, menegaskan bahwa izin ekspor tetap akan disetujui jika permohonannya sah dan digunakan untuk keperluan sipil.
Sebagai respons, Amerika Serikat bereaksi keras terhadap langkah China tersebut. PejabatAS seperti Sekretaris Keuangan Scott Bessent dan Perwakilan Dagang Jamieson Greer menyebut kebijakan China sebagai upaya “merebut kendali rantai pasok global.” AS bahkan mengancam akan mengenakan tarif 100% terhadap barang impor dari China jika langkah kontrol ekspor itu tetap dijalankan. Greer juga menyampaikan bahwa pihaknya sudah berusaha menghubungi Beijing lewat panggilan telepon, namun belum mendapat tanggapanresmi.
Di tingkat internasional, negara-negara G7 sepakat akan menjaga solidaritas dalam merespons kebijakan China dan mendorong diversifikasi pasokan mineral agar tak tergantung pada satu negara. Uni Eropa bahkan menjajaki kerja sama dengan AS untuk menghadapi tindakan ekspor China tersebut.
Meski begitu, tidak semua negara memperkirakan dampak besar dari kebijakan tersebut. Sebagai contoh, Taiwan menilai sektor semikonduktornya tidak akan terlalu terdampak karena elemen rare earth yang dikontrol berbeda dari yang digunakan dalam pembuatan chip.
Namun, bagi industri global seperti otomotif, elektronik, dan pertahanan, langkah China ini tetap menimbulkan kekhwatiran serius terhadap stabilitas rantai pasok komponen kritis, mengingat peran penting China sebagai produsen utama logam tanah jarang dunia.