Pada 20 Oktober 2025 Ketua Partai Liberal Demokrat Jepang (LDP) Sanae Takaichi dan Ketua Partai Inovasi Jepang (JIP/Ishin) Hirofumi Yoshimura mengumumkan bahwa kedua partai telah menyepakati pembentukan koalisi pemerintahan baru. Dalam koalisi ini Partai JIP tidak akan memberikan dukungan bagi pemerintahan Sanae Takaichi dalam pemungutan suara perdana menteri yang akan dilaksanakan oleh Parlemen Nasional Jepang pada 21 Oktober 2025. Untuk memastikan bahwa koalisi ini dapat terbentuk Partai LDP mendukung beberapa usulan yang diberikan Partai JIP seperti menurunkan pajak konsumsi, melarang sumbangan politik dari konglomerat dan organisasi, dan mengurangi jumlah kursi yang ada dalam parlemen nasional. Selain itu Partai LDP dan Partai JIP juga sepakat untuk membentuk sebuah badan konsultatif yang dapat memastikan bahwa kedua belah pihak menjalankan perjanjian yang telah disepakati.
Pembentukan koalisi antara Partai LDP dan Partai JIP merupakan sebuah kemenangan besar bagi Sanae Takaichi yang saat ini sedang berupaya untuk menjadi PM wanita pertama dalam sejarah politik Jepang. Upaya pembentukan koalisi antara Partai LDP dan Partai JIP telah berlangsung sejak Kamis 16 Oktober 2025. Negosiasi antara Partai LDP dan Partai JIP berjalan relatif cepat karena kedua partai memiliki pandangan serupa tentang berbagai isu yang sedang dihadapi oleh Jepang. Selanjutnya Partai LDP memiliki jaringan luas sehingga mereka dapat melaksanakan negosiasi tertutup dengan Partai JIP sebelum blok oposisi dapat menyelenggarakan perundingan untuk menentukan kandidat PM mereka. Hal ini mendapatkan reaksi keras dari blok oposisi seperti Partai Demokrat Untuk Rakyat (DPFP) yang mengecam Partai JIP sebagai pengkhianat.
Sanae Takaichi terpilih sebagai Ketua Partai LDP dalam pemilu internal yang diselenggarakan pada 4 Oktober 2025. Tidak lama setelah Sanae terpilih sebagai ketua partai, mitra koalisi Partai LDP selama 26 tahun yakni Partai Komeito memutuskan bahwa mereka akan meninggalkan koalisi tersebut akibat dari perbedaan pandangan tentang berbagai isu. Hal ini memperumit upaya Sanae Takaichi untuk menjadi PM karena Partai LDP tidak memiliki kursi yang cukup di parlemen untuk memastikan sang ketua partai dapat memenangkan pemungutan suara.