Pada 4 Oktober 2025 Partai Liberal Demokrat (LDP) Jepang menyelenggarakan pemilu internal untuk menentukan ketua partai mereka setelah PM Shigeru Ishiba mengundurkan dirisebagai bentuk tanggung jawab akibat dari kekalahan dalam pemilu tahun 2024 dan 2025. Dalam pemilu internal ini mantan Menteri Keamanan Ekonomi Sanae Takaichi bersaing dengan Menteri Kehutanan, Agrikultur, dan Perikanan Shinjiro Koizumi. Setelah melaksanakan pemungutan suara dalam beberapa putaran, Sanae Takaichi berhasil memenangkan pemilu dengan total 185 suara sementara Shinjiro Koizumi hanya mendapatkan 156 suara. Kemenangan Sanae Takaichi merupakan sebuah perkembangan signifikan karena hal tersebut memperbesar kemungkinannya untuk menjadi PM perempuan pertama Jepang.
Menanggapi kemenangan tersebut Sanae Takaichi menyatakan keinginannya untuk memulihkan kepercayaan publik kepada Partai LDP yang merosot akibat dari krisis biaya hidup dan skandal politik sebelumnya. Takaichi juga mendukung kebijakan yang memperluas dan meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi wanita serta penduduk lansia Negeri Sakura. Selain itu Takaichi juga menekankan pentingnya LDP melanjutkan kerja sama dengan Partai Komeito karena mereka adalah mitra koalisi. Akan tetapi sang mantan menteri keamanan ekonomi tidak menutup kemungkinan memperluas koalisi politik LDP-Komeito dengan mengajak salah satu partai oposisi bergabung. Dalam aspek kebijakan luar negeri, Takaichi menekankan komitmennya untuk memperkuat aliansi pertahanan Jepang dengan negara sekutu dan mitra regional seperti Amerika Serikat, Australia, Korea Selatan, dan Filipina. Takaichi menganggap Jepang perlu memperkuat aliansi pertahanan untuk mencapai tujuan kawasan Indo-Pasifik yang terbuka dan bebas (free and open Indo-Pacific).
Sanae Takaichi merupakan tokoh kontroversial dalam politik Jepang karena sang mantan menteri keamanan ekonomi ini memiliki pandangan konservatif dalam berbagai isu seperti pernikahan sesama jenis dan penggunaan nama keluarga oleh pasangan yang telah menikah. Selanjutnya Takaichi juga memiliki pandangan revisionis terhadap sejarah Jepang di era perang dunia ke-2, hal tersebut dibuktikan dengan kunjungan rutin yang dilakukan oleh sang mantan menteri ke Kuil Yasukuni serta hubungan dekatnya dengan kelompok Nippon Kaigi. Selain itu Sanae juga mendorong revisi pasal pasifis dalam konstitusi Jepang dan pembentukan aliansi semi-pertahanan dengan Taiwan untuk mengurangi kemungkinan terjadinya invasi dari China.