Pada 30 September 2025 Wakil Presiden Amerika Serikat J.D Vance menyatakan bahwa Presiden Amerika Serikat Donald Trump sedang meninjau pengiriman rudal penjelajah BGM-109 Tomahawk untuk Angkatan Bersenjata Ukraina (AFU). Presiden Trump mempertimbangkan hal tersebut setelah Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyampaikan permintaan bagi Negeri Paman Sam untuk mengirimkan rudal penjelajah Tomahawk kepada AFU. Zelenskyy menambahkan bahwa rudal penjelajah tersebut akan memberikan Ukraina kemampuan untuk menyerang Moskow dan fasilitas lain yang memiliki peran dalam mendukung invasi yang dilancarkan Rusia. Zelenskyy juga menjelaskan kepada Presiden Trump bahwa Ukraina membutuhkan rudal penjelajah Tomahawk untuk memaksa Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan negosiasi yang dapat mengakhiri invasi dan mengembalikan perdamaian.
Menanggapi perkembangan tersebut Juru Bicara Kremlin Dmitri Peskov menyampaikan bahwa pengiriman rudal penjelajah Tomahawk kepada AFU akan dianggap sebagai eskalasi oleh Rusia. Peskov menambahkan bahwa pengiriman rudal penjelajah Tomahawk tidak akan mengubah dinamika yang terjadi di medan pertempuran. Selanjutnya Ketua Komite Pertahanan Parlemen Rusia Andrei Kartapolov menambahkan personel militer Amerika Serikat yang ditugaskan untuk membantu AFU meluncurkan Tomahawk akan dianggap sebagai target militer. Di sisi lain analis pertahanan dari King’s College London, Marina Miron menyatakan bahwa walaupun AFU sudah memiliki rudal penjelajah dengan kapabilitas yang lebih baik dari Tomahawk, mereka tetap memerlukan rudal buatan Amerika Serikat karena alasan strategis. Miron menjelaskan bahwa Tomahawk dapat meningkatkan kapabilitas serangan strategisUkraina karena mereka dapat menyerang instalasi penting di dalam wilayah Rusia seperti pangkalan besar, pusat logistik, lapangan udara, depot bahan bakar, dan pusat komando.
Pertimbangan Trump untuk mengirimkan rudal penjelajah Tomahawk kepada AFU merupakan bagian dari perubahan posisi sang presiden Amerika Serikat terhadap invasi yang dilancarkan oleh Rusia. Presiden Trump mengubah pandangannya akibat dari keengganan pihak Rusia untuk melakukan negosiasi perdamaian dengan Ukraina. Sebelumnya Trump telah menyatakan di medial sosial bahwa Ukraina mampu membebaskan seluruh wilayah yang diduduki oleh Rusia dengan bantuan dari Amerika Serikat serta Uni Eropa (EU).