Pada 14 April 2025 Kanselir terpilih Jerman Friedrich Merz menyatakan kepada wartawan bahwa mereka bersedia untuk mengirimkan rudal penjelajah Taurus ke Ukraina untuk membantu mereka dalam menghadapi serangan berkelanjutan yang dilancarkan oleh Rusia. Merz menambahkan bahwa langkah tersebut perlu dilaksanakan agar Angkatan Bersenjata Ukraina (AFU) dapat memperbaiki situasi mereka di garis depan medan pertempuran. Akan tetapi Merz menekankan bahwa keputusan untuk mengirimkan rudal penjelajah Taurus akan dilakukan setelah Jerman berkoordinasi dengan sekutu mereka di Uni Eropa. Menurut sang kanselir terpilih dan pemimpin Partai Persatuan Kristen Demokrat (CDU/CSU), Taurus dapat digunakan AFU untuk menghantam target strategis seperti fasilitas militer di Krimea dan Jembatan Selat Kerch.
Merz menyampaikan pernyataan tersebut beberapa hari setelah Rusia melancarkan serangan rudal balistik terhadap Kota Sumy yang menewaskan setidaknya 34 warga sipil dan melukai 117 warga lainnya. Menanggapi hal tersebut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mendorong adanya respon kuat dari komunitas internasional terhadap serangan tersebut. Zelenskyy menambahkan bahwa Rusia melancarkan serangan teror untuk memperpanjang perang dan perdamaian tidak akan bisa tercapai jika negara penyerang tidak menghadapi tekanan. Di sisi lain Juru Bicara Kremlin Dmitri Peskov menyatakan kepada wartawan bahwa serangan yang dilancarkan Rusia hanya menargetkan fasilitas militer. Sementara itu Kemhan Rusia menyatakan dalam media sosial Telegram bahwa rezim Ukraina menggunakan warga sipil sebagai tameng untuk menyembunyikan keberadaan fasilitas militer di kota Sumy.
Sebelumnya Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris Raya telah mengirimkan rudal jelajah SCALP/Storm Shadow dan rudal balistik jarak pendek (SRBM) ATACMS ke Ukraina. Akan tetapi pada masa pemerintahan Kanselir Olaf Scholz Jerman menolak pengiriman rudal penjelajah Taurus ke Ukraina atas dasar eskalasi konflik. Merz memiliki pandangan berbeda dengan Scholz karena dia menganggap segala bentuk upaya negosiasi dengan Rusia sebagai aksi naif dan memberikan sinyal bahwa Uni Eropa (EU) lemah dalam menghadapi ancaman. Merz memberikan contoh pada tahun 2023 saat Rusia menargetkan rumah sakit di Kyiv beberapa hari setelah kunjungan Perdana Menteri (PM) Hungaria Viktor Orban ke Moskow.