Kunjungan Macron ke Lebanon: Mendukung Kepemimpinan Baru dan Upaya Gencatan Senjata
Pada hari Jumat (17/1), Presiden Prancis Emmanuel Macron mengunjungi Lebanon untuk bertemu dengan Presiden Joseph Aoun dan Nawaf Salam sebagai Perdana Menteri yang baru dilantik pada Kamis (9/1). Setelah lebih dari dua tahun kekosongan politik di puncak kekuasaan, Joseph Aoun terpilih menjadi presiden dan menunjuk Nawaf Salam sebagai calon perdana menteri. Kini, mereka harus menghadapi tantangan besar untuk memimpin Lebanon setelah perang antara Israel dan Hezbollah yang mengakibatkan krisis ekonomi yang berkepanjangan.
Kunjungan Macron ini bertujuan untuk memberikan “dukungan” kepada Aoun dan Salam dalam upaya mereka untuk memperkuat kedaulatan Lebanon, memastikan kemakmurannya, serta menjaga dan memperkuat persatuan negara tersebut. Menurut pernyataan yang dikeluarkan oleh pihak kepresidenan Prancis sebelum kedatangannya, kunjungan ini juga mencerminkan komitmen Prancis untuk membantu Lebanon melalui tantangan besar yang dihadapi negara itu, baik dalam hal pemulihan ekonomi, stabilitas politik, maupun dalam menjaga integritas nasional Lebanon pasca-konflik dan krisis yang panjang. Melemahnya Hezbollah dalam perang dengan Israel tahun lalu memungkinkan kelas politik Lebanon yang terpecah-pecah untuk memilih Aoun dan mendukung penunjukan Salam sebagai perdana menteri.
Perdana menteri yang baru dihadapkan dengan tugas yang besar untuk membentuk pemerintahan yang akan memimpin proses rekonstruksi setelah berakhirnya konflik Israel-Hezbollah pada bulan November, serta melaksanakan reformasi yang diminta oleh kreditor internasional sebagai syarat untuk mendapatkan bantuan keuangan yang sangat dibutuhkan. Salam, yang sebelumnya menjabat sebagai ketua majelis di Mahkamah Internasional, menyatakan bahwa konsultasi dengan semua pihak politik mengenai kemungkinan susunan kabinet minggu ini berjalan “sangat positif”.
Macron dan Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, telah menyatakan dukungan penuh mereka terhadap pembentukan pemerintahan yang kuat dan stabil di Lebanon, menurut pernyataan dari pihak kepresidenan Prancis. Pemerintahan baru ini diharapkan dapat menyatukan rakyat Lebanon yang beragam, memastikan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon dihormati, serta melaksanakan reformasi yang diperlukan untuk mencapai kemakmuran, stabilitas, dan kedaulatan negara. Dewan Keamanan PBB juga mendesak para pemimpin Lebanon untuk segera membentuk pemerintahan baru, menganggap langkah tersebut sebagai elemen penting untuk menciptakan stabilitas di negara yang tengah menghadapi dampak perang dan kawasan yang terimbas konflik tersebut.