Pada 18 Januari 2026 Kementerian Pertahanan (Kemhan) Irak mengumumkan bahwa pasukan Amerika Serikat telah sepenuhnya meninggalkan fasilitas militer yang berada di wilayah federal Negeri Dua Sungai. Kemhan Irak juga menyatakan bahwa kontingen terakhir penasehat Militer Amerika Serikat untuk Militer Irak telah meninggalkan Pangkalan Udara Al-Asad yang sebelumnya telah menjadi markas tetap militer AS di Negeri Dua Sungai selama dua dekade. Selain itu Kemhan Irak juga menyatakan bahwa selurh pangkalan yang ditinggalkan oleh Militer Amerika Serikat berada di bawah kendali Militer Irak dan dalam waktu dekat kedua negara akan menyepakati perjanjian kerja sama pertahanan bilateral baru. Perjanjian tersebut akan memiliki beberapa cakupan yakni latihan bersama, koordinasi operasional, dan akuisisi peralatan baru.
Menanggapi hal tersebut Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Seyed Abbas Aragachi menyatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa penarikan mundur pasukan Amerika Serikat mengafirmasi kedaulatan Irak. Menlu Abbas juga menekankan dukungan Iran terhadap Irak karena mereka memiliki kapasitas penting dalam menjaga perdamaian dan stabilitas regional. Menlu Abbas juga mengapresiasi dukungan yang diberikan kepada Irak terhadap masyarakat Iran. Merespon hal tersebut, Menlu Irak menyatakan dialog antara Iran dan Irak perlu dilanjutkan karena stabilitas nasional kedua negara memiliki dampak signifikan bagi keamanan kawasan Timur Tengah.
Amerika Serikat telah mengerahkan pasukan ke Irak sejak 2014 untuk membantu Irak melawan kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) yang pada saat itu menguasai sebagian besar wilayah Negeri Dua Sungai. Setelah ISIS mengalami kekalahan militer di Irak pada tahun 2017, Amerika Serikat mulai meninggalkan Negeri Dua Sungai secara berkala sementara penasehat militer diberikan kewenangan untuk melanjutkan misi mereka. Akan tetapi pada September 2024, Amerika Serikat dan Irak menandatangani perjanjian yang mengakhiri misi dari koalisi internasional anti-ISIS (CJTF-IOR) di Negeri Dua Benua. Selain itu ketegangan regional antara Amerika Serikat dan Iran juga mendorong Negeri Paman Sam untuk menarik mundur pasukan dari Irak karena terdapat ancaman bahwa pangkalan yang ada dapat diserang oleh Negeri Persia. Ancaman tersebut terbukti karena sejak tahun 2020, Pangkalan Udara al-Asad telah menghadapi serangan rudal dan roket dari milisi pro-Iran di Irak seperti Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) akibat dari berbagai peristiwa seperti pembunuhan Mayjen IRGC Qasem Soleimani.