Pada 13 Agustus 2025 Menteri Pertahanan (Menhan) Suriah Mayor Jenderal (Mayjen) Murhaf Abu Qasra dan Menhan Turki Yaşar Güler menandatangani nota kesepahaman (MoU)kerja sama pertahanan komprehensif antara kedua negara. Dalam kerja sama tersebut Turki akan mendukung upaya reformasi sektor keamanan Suriah dan peningkatan kapabilitas tempurAngkatan Bersenjata Arab Suriah (SAA) dengan berbagai kegiatan. Kegiatan tersebut mencakup pertukaran perwira dan prajurit, pelatihan khusus dalam berbagai aspek perang modern, dan pemberian bantuan teknis kepada SAA. Dilansir dari kanal berita SANA, kerja sama tersebut merupakan bagian dari upaya keseluruhan pemerintah Suriah untuk meningkatkan profesionalisme prajurit SAA dengan memberikan pelatihan dengan standar internasional.
Di saat yang bersamaan Menteri Luar Negeri (Menlu) Turki Hakan Fidan dan MenluSuriah Asaad al-Shaibani menuduh Israel dan milisi Tentara Demokratis Suriah (SDF) sebagaiagen yang berusaha merusak upaya pemulihan nasional Suriah setelah 14 tahun perang saudara.Menlu Turki Hakan mengingatkan Israel bahwa keamanan Negeri Bintang Daud tidak bisa terjaga jika situasi keamanan negara tetangga tergerus akibat dari aksi mereka. Hakan juga menekankan bahwa aksi tersebut juga dapat menjadi pemicu terjadinya krisis baru di kawasanTimur Tengah. Sementara itu Menlu Suriah Al-Shaibani menyatakan bahwa aksi Israel terhadapSuriah mengancam keamanan masyarakat Negeri Al-Sham. Al-Shaibani juga menyatakan bahwa ada beberapa pihak yang ingin Suriah runtuh dengan mendorong sektarianisme. Selain itu Al-Shaibani juga menekankan komitmen pemerintah transisi suriah (STG) untuk mencapai stabilitas dengan mengedepankan dialog dengan berbagai pihak.
Sejak memenangkan perang saudara, STG telah menghadapi berbagai tantangan besar yang mengancam upaya pemulihan Suriah seperti konflik sektarian di Provinsi Al-Suwayda, serangan udara dan invasi yang dilancarkan oleh Israel, dan baku tembak dengan SDF di utara. Untuk menghadapi tantangan tersebut pada 23 Juli 2025 STG meminta agar Turki membantu upaya pemerintah Suriah meningkatkan kapabilitas SAA. Turki merespon permintaan tersebut dengan melakukan negosiasi kerja sama pertahanan dan mengirimkan kendaraan pengangkutpasukan (APC) Ejder 6×6.