Kementerian Luar Negeri Tiongkok menegaskan bahwa pembentukan blok negara berdasarkan mentalitas Perang Dingin tidak mendukung perdamaian, stabilitas, dan pembangunan kawasan Arktik. Pernyataan tersebut disampaikan Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok, Mao Ning, dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (22/10/2026).
Mengutip China Radio International (CRI), pernyataan itu merupakan tanggapan Beijing terhadap strategi baru Uni Eropa yang menyoroti meningkatnya aktivitas Tiongkok dan kerja samanya dengan Rusia di kawasan Arktik.
Mao mengatakan kawasan Arktik berkaitan dengan kepentingan bersama masyarakat internasional. Karena itu, setiap negara memiliki hak dan kebebasan untuk menjalankan kegiatan di wilayah tersebut sepanjang sesuai dengan ketentuan hukum internasional.
Menurutnya, aktivitas Tiongkok di Arktik bertujuan mendukung perdamaian, menjaga stabilitas, serta mendorong pembangunan berkelanjutan. Beijing juga menegaskan bahwa seluruh kegiatannya di kawasan tersebut dilaksanakan berdasarkan hukum internasional.
Pernyataan itu muncul setelah Uni Eropa memperkenalkan strategi Arktik terbaru. Kebijakan tersebut menempatkan keamanan sebagai salah satu prioritas utama menyusul meningkatnya persaingan geopolitik dan aktivitas sejumlah negara di kawasan kutub utara.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas, menyampaikan bahwa kehadiran Rusia dan Tiongkok yang semakin besar telah meningkatkan perhatian terhadap keamanan Arktik. Ia juga menyoroti investasi Beijing pada pelabuhan, sumber daya mineral, dan infrastruktur penting di kawasan tersebut.
Dalam strategi terbarunya, Uni Eropa berencana memperkuat pengawasan maritim, meningkatkan kemampuan kapal pemecah es, serta memperluas perlindungan terhadap infrastruktur strategis, termasuk kabel komunikasi bawah laut.
Uni Eropa juga akan meningkatkan kerja sama dengan negara-negara mitra untuk memperkuat kesiapan keamanan dan menjaga kelancaran aktivitas pelayaran di Arktik. Kebijakan tersebut mencakup pembentukan pusat keamanan maritim guna mendukung pertukaran informasi dan pemantauan kegiatan di perairan kawasan itu.
Sementara itu, Tiongkok dan Rusia terus mengembangkan kerja sama dalam bidang pelayaran Arktik. Kedua negara pada pekan ini menyepakati perluasan kerja sama jalur pelayaran, termasuk peningkatan hubungan transportasi laut antara pelabuhan Rusia dan Tiongkok.
Menanggapi kekhawatiran Uni Eropa, Mao kembali menekankan pentingnya penghormatan terhadap hak negara-negara untuk beraktivitas secara sah di Arktik. Pemerintah Tiongkok menolak pendekatan yang membagi negara ke dalam kelompok-kelompok yang saling berhadapan karena dinilai tidak sejalan dengan kepentingan perdamaian dan pembangunan kawasan.