Pada 7 Juni 2026, Angkatan Laut Korea Selatan (ROKN) dan Pasukan Pertahanan Maritim Jepang (JMSDF) menyelenggarakan latihan pencarian dan penyelematan (SAREX) bersama di perairan internasional sekitar Pulau Jeju. Dalam latihan bersama ini, ROKN menugaskan kapal pendaratan pasukan ROKN Cheon Ja Bong sementara JMSDF mengirimkan sebuah kapal perusak rudal dengan sistem Aegis (DDG) Kelas Kongo yang diperkuat dengan helikopter patrol maritim. Tujuan dari latihan bersama ini adalah untuk meningkatkan kemampuan ROKN dan JMSDF dalam menghadapi situasi darurat dan kemanusiaan di laut lepas. Untuk mencapai tujuan tersebut, latihan bersama ini mencakup simulasi skenario pencarian dan penyelamatan (SAR) kapal sipil, kebakaran dalam kapal perang, dan lepas landas helikopter dari kapal perang kedua negara.
Menanggapi perkembangan ini, ROKN dan JMSDF merilis pernyataan bersama yang mengafirmasi komitmen kedua belah pihak dalam menjaga hubungan stabil dan damai berdasarkan prinsip kepercayaan dan mutual understanding. Sementara itu Menteri Pertahanan (Menhan) Jepang Shinjiro Koizumi menyatakan latihan bersama SAREX merupakan tanda dimulainya babak baru dalam hubungan bilateral Jepang dan Korea Selatan. Menhan Koizumi menambahkan bahwa Jepang dan Korea Selatan perlu meningkatkan kerja sama dalam sektor pertahanan untuk menghadapi memanasnya ketegangan di kawasan Indo-Pasifik. Pandangan serupa juga diberikan oleh Menhan Korea Selatan Ahn Gyu-back yang juga mengkategorikan SAREX serta ekspansi kerja sama pertahanan antara kedua negara sebagai ping-pong diplomacy.
Diselenggarakannya latihan bersama SAREX merupakan momen bersejarah dalam hubungan Korea Selatan-Jepang karena kegiatan ini sebelumnya ditangguhkan akibat dari krisis diplomatik tahun 2017 dan aksi flyby pesawat JSDF terhadap kapal ROKN pada Desember 2018. Selain itu, Jepang juga menganggap Korea Selatan telah melakukan aksi berbahaya setelah salah satu DDG ROKN melacak dan mengunci salah satu pesawat patroli maritim JMSDF yang sedang terbang di atas Semenanjung Noto, Provinsi Ishikawa. Diselenggarakannya latihan bersama ini merupakan tanda bahwa kedua negara kini memiliki kepentingan selaras di kawasan Indo-Pasifik seperti ancaman kapabilitas nuklir Korea Utara serta aksi asertif China terhadap wilayah yang diklaimnya seperti Taiwan, Laut China Timur, dan Laut China Selatan.