Korea Utara Kerahkan Artileri Ke Kota Perbatasan Korea Selatan

Pada 26 Oktober 2026, media sosial Korea Selatan dikejutkan dengan sebuah video yang menunjukkan beberapa kendaraan artileri swagerak (SPG) milik Tentara Rakyat Korea Utara (KPA) muncul secara tiba-tiba di Kota Perbatasan Gimpo, Provinsi Gyeonggi Korea Selatan. Berdasarkan analisa yang diberikan oleh kanal media UNN, SPG yang dikerahkan kemungkinan besar adalah tipe Tokchon M1981 yang dilengkapi dengan meriam kaliber 122mm dengan jarak tembak sejauh 15-24 km. Selain mengerahkan sistem SPG ke perbatasan, KPA juga mengerahkan setidaknya 20-30 prajurit ke daerah sekitar untuk menjalankan pembangunan pagar kawat baru serta menempatkan ranjau di wilayah sekitar. Dilansir dari SBS News, pengerahan ini merupakan sebuahshow of force yang menunjukkan KPA memiliki kekuatan mumpun untuk menghadapi Militer Korea Selatan.

Pandangan serupa juga disampaikan oleh Sekjen Forum Pertahanan dan Keamanan Korea Selatan (KODEF) Shing Jung-woo dengan tambahan bahwa aksi ini akan meningkatkan ketegangan militer antara kedua negara. Shin menambahkan bahwa pengerahan SPG Tokchon ke perbatasan dapat dianggap sebagai tindak lanjut dari pernyataan Kim Yo Jong yang mendorong KPA untuk mengerahkan senjata nuklir taktis ke zona demarkasi militer (MDL). Sementara itu, Profesor Universitas Kyungnam Lim Eul-chul menyatakan bahwa cukup langka bagi Korea Utara untuk menunjukkan persenjataan berat yang mereka gunakan dalam menjaga wilayah perbatasan. Menurutnya, hal ini dapat dianggap sebagai sinyal bahwa Korea Utara enggan bernegosiasi dengan Korea Selatan dan perbatasan mereka akan dijaga sepenuhnya dengan menggunakan kekuatan militer. Selain itu, Profesor Lim menambahkan bahwa aksi ini merupakan peringatan keras untuk Korea Selatan agar mereka bijak dalam menghadapi kondisi geopolitik yang rumit.

Pengerahan SPG oleh KPA ke wilayah perbatasan Korea Utara-Korea Selatan merupakan perkembangan terbaru dari ketegangan diplomatik antara kedua negara yang telah mengalami peningkatan signifikan sejak minggu kemarin. Ketegangan ini mengalami peningkatan signifikan setelah Korea Utara menuduh Korea Selatan telah memalsukan bukti dari insiden ledakan ranjau yang terjadi bulan sebelumnya. Selain itu, Korea Utara juga menganggap Korea Selatan sedang menggunakan insiden tersebut untuk memperlambat upaya mereka dalam membangun fasilitas perbatasan yang memadai. Korea Selatan telah menanggapi hal tersebut dengan beberapa aksi seperti mendorong dilakukannya dialog tingkat tinggi serta memperkuat tekanan diplomatik agar Korea Utara memberikan permintaan maaf formal.