Pada 2 November 2026, Menteri Luar Negeri (Menlu) Suriah Asaad al-Shaibani menyatakan bahwa Suriah sedang melakukan negosiasi untuk bergabung dalam Pakta Pertahanan Makkah yang dibentuk oleh Turki, Pakistan, dan Saudi Arabia. Pengumuman ini diberikan oleh Menlu Asaad dalam sela-sela forum Konferensi Keamanan Internasional Manama di Bahrain yang diselenggarakan pada 25 hingga 2 November 2026. Menlu Asaad menambahkan bahwa Suriah merupakan aktor penting dalam menjaga keamanan dan stabilitas regional kawasan Levant. Menlu Asaad menekankan bahwa dalam kondisi saat ini, dibutuhkan kerangka keamanan regional yang dapat menggabungkan kekuatan militer untuk menghadapi dinamika ancaman baru. Menlu Asaad juga menyampaikan dukungan penuh Suriah terhadap upaya apapaun yang memiliki tujuan untuk membangun kerangka tersebut.
Menanggapi perkembangan ini, kanal media Defence24 merilis sebuah artikel yang menjelaskan bahwa keinginan Suriah untuk bergabung dalam Pakta Makkah merupakan bagian dari reorientasi strategis mereka pasca runtuhnya rezim Bashar Al-Assad dua tahun sebelumnya. Dalam reorientasi ini, Suriah ingin memperkokoh posisi mereka dalam arsitektur keamanan regional (RSC) buatan Saudi Arabia dengan corak Islam Sunni karena hal ini akan memutus secara formal kerangka sebelumnya yang dipimpin oleh Iran. Namun hal tersebut dapat memperumit kalkulasi keamanan negara Pakta Makkah karena mereka dapat terjeremus dalam sebuah konfrontasi atau konflik bersenjata dengan Israel. Sementara itu, Peneliti Senior Jerusalem Center for Public Affairs Yoni Ben-Menachem menyatakan bahwa keinginan Suriah untuk bergabung dalam Pakta Makkah merupakan sebuah keputusan strategis yang menguntungkan Turki. Yoni menambahkan bahwa ekspansi Pakta Makkah dengan adanya anggota baru seperti Suriah memberikan aliansi tersebut potensi untuk mengisi vakum kekuasaan jika rezim Republik Islam Iran runtuh.
Bergabungnya Suriah dalam Pakta Makkah juga dapat memberikan dinamika baru dalam konflik Yaman karena terdapat kemungkinan bahwa aliansi ini dapat mendorong Presiden Ahmed Al-Sharaa untuk mengerahkan pasukan guna melawan kelompok milisi Houthi. Hal ini dapat memberikan dampak positif bagi pasukan Saudi Arabia karena Suriah memiliki pengalaman ekstensif dalam menghadapi milisi seperti Hezbollah saat perang saudara masih berlangsung. Akan tetapi, hal ini kurang memungkinkan karena sejauh ini pemerintah Suriah menyangkal kabar bahwa Saudi Arabia telah meminta mereka untuk mengirimkan pasukan ekspedisi ke Yaman.