Proliferasi Drone dan Perang Gerilya: Evolusi Perang Saudara Myanmar Sejak 2021
Selama puluhan dekade, perang gerilya identik dengan keterbatasan sumber daya karena kelompok insurgensi selalu akan menghadapi lawan yang memiliki keunggulan material, sumber daya manusia (SDM), logistik, dan persenjataan yang absolut. Namun dalam beberapa tahun terakhir, telah terjadi pergeseran signifikan dalam bagaimana perang gerilya dilakukan akibat dari proliferasi teknologi drone komersial yang dapat diakses secara mudah oleh masyarakat luas. Pergeseran ini dapat terlihat secara nyata di Myanmar di mana perang saudara yang pecah pasca kudeta Militer Myanmar pada 1 Februari 2021 telah berkembang menjadi sebuah laboratorium hidup dalam bagaimana insurgensi dapat menggunakan drone sebagai alat vital untuk mengimbangi ketimpangan kekuatan militer.
Delapan bulan setelah Tatmadaw melancarkan kudeta yang menggulingkan pemerintahan demokratis Kanselir Aung San Suu Kyi dan Presiden Win Myint, mereka menghadapi perlawanan bersenjata dari berbagai kelompok bersenjata yang salah satunya adalah Pasukan Pertahanan Rakyat (PDF) yang berada di bawah kendali Pemerintah Persatuan Nasional (NUG) Myanmar. Secara konvensional, keunggulan Tatmadaw terlihat absolut karena dibandingkan dengan pasukan PDF yang memiliki persenjataan terbatas, mereka menguasai seluruh spektrum militer baik itu dalam aspe jumlah persenjataan berat, tank, aset udara, dan infrastruktur militer. Keuntungan ini membuat perlawanan yang diberikan oleh para pemberontak terlihat tidak signifikan karena Tatmadaw dapat menggunakan seluruh kekuatannya untuk memastikan mereka tidak dapat bertahan dalam jangka panjang ataupun berkembang.
Akan tetapi, proliferasi drone komersial mengubah keuntungan ini karena para pemberontak dapat memodifikasi alat ini untuk menjatuhkan peledak. Perkembangan ini merupakan sebuah pegeseran paradigma dalam bagaimana sebuah konflik asimetris dijalankan oleh pihak yang memiliki kekurangan dalam segala aspek. Pergeseran ini sendiri, walaupun inovatif, tidak datang dari ruang hampa karena anggota PDF dan sekutu mereka mempelajari dengan seksama bagaimana drone murah dapat digunakan oleh Militer Ukraina (ZSU) untuk menghadang dan menghancurkan konvoi pasukan Rusia yang berusaha mengepung Chernihiv dan menyerang Ibukota Kyiv dari arah timur. Pelajaran ini kemudian mereka adaptasikan kepada realita medan tempur Myanmar yang penuh dengan pegunungan, sungai, lembah, dan hutan tropis lebat.
Walaupun demikian, penggunaan drone oleh milisi PDF memiliki prinsip sama dengan Ukraina yaitu sebagai force multiplier yang dapat meningkatkan efektivitas pasukan mereka dalam menggerus kekuatan tempur Tatmadaw menggunakan keunggulan asimetris. Untuk mencapai hal ini, kelompok pemberontak menggunakan drone untuk melakukan setidaknya tiga tugas kritis. Pertama adalah pengintaian. Dengan kamera yang dipasang pada drone komersial, pasukan gerilya mampu memantau pergerakan musuh secara real-time tanpa harus mengekspos diri. Keunggulan informasi ini sebelumnya hanya dimiliki negara dengan aset intelijen canggih dan mahal. Kedua adalah serangan presisi. PDF dan kelompok bersenjata etnis memodifikasi drone komersial untuk menjatuhkan amunisi ringan atau bahan peledak improvisasi ke posisi musuh. Serangan terhadap markas militer dan bandara di Naypyitaw pada April 2024, yang dilancarkan oleh Kloud Team (Shar Htoo Waw), sebuah satuan khusus PDF yang ahli dalam taktik perang drone, menjadi bukti nyata bahwa aktor non-negara mampu menjangkau jantung kekuasaan musuh tanpa berhadapan langsung. Ketiga adalah efek psikologis dan propaganda. Video serangan drone yang disebarkan melalui media sosial menciptakan tekanan psikologis terhadap Tatmadaw, sekaligus meningkatkan semangat juang perlawanan dan simpati publik internasional. Dalam hal ini perang tidak hanya dimenangkan di medan tempur, melainkan juga dalam ruang persepsi dan propaganda.
Hasil dari taktik ini telah memberikan dampak positif karena pada periode 2023-2025, beberapa kelompok pemberontak yang bersekutu dengan PDF seperti Pasukan Pertahanan Nasional Karenni (KNDF), Tentara Arakan (AA), dan Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA) berhasil memperluas kendali mereka terhadap perbatasan Myanmar dengan India, Bangladesh, Thailand, dan China. Selain itu, keberadaan drone ini juga memaksa pasukan Tatmadaw yang berada di pos anti-gerilya untuk bertahan di tempat dibandingkan melancarkan patroli di luar perimeter markas.
Namun, adaptasi penggunaan teknologi ini tidak bersifat ekslusif karena Tatmadaw, dengan bantuan China secara bertahap mulai mengintegrasikan penggunaan drone dalam doktrin militer mereka sebagai pengintai, pembantu artileri, dan senjata penyerang khusus. Selain mengadaptasikan penggunaan drone, Tatmadaw juga mulai menggunakan senjata jammer elektronik yang mampu mengganggu frekuensi drone pemberontak. Hal ini telah memberikan hasil yang cukup baik bagi Tatmadaw karena laporan Laporan Armed Conflict Location & Event Data (ACLED) pada Juli 2025 menunjukkan bahwa volume serangan drone yang dilancarkan Tatmadaw telah melampaui frekuensi serangan yang mampu dilancarkan oleh kelompok pemberontak. Pola ini bukanlah suatu hal yang baru karena counter-innovation yang terjadi di Myanmar juga terjadi di Ukraina, namun yang membedakan Myanmar dari kasus lain adalah kecepatannya karena tidak lama setelah pemberontak mulai menggunakan drone, Tatmadaw berusaha untuk mengembangkan cara baru guna menghadapi ancaman tersebut.
Hal ini memberikan dua pelajaran penting bagi dunia. Pelajaran pertama adalah keberadaan drone telah mengubah sifat perang gerilya karena kemampuan yang diberikan alat ini memberikan para pemberontak kemampuan untuk mengimbangi kekuatan musuh secara asimetris. Pelajaran kedua adalah keunggulan merupakan sebuah variabel, bukan sesuatu yang konstan atau absolut. Dalam waktu awal, musuh mungkin akan merasa kewalahan dengan keunggulan baru yang dimiliki lawan, namun pada akhirnya mereka akan mempelajari bagaimana cara menghadapi ancaman tersebut secara efektif dan efisien.