Aktivitas manufaktur China masih berada di zona ekspansi pada Juli 2026, namun lajunya melambat ke level terendah dalam empat bulan terakhir. Perlambatan tersebut mencerminkan masih lemahnya permintaan domestik di tengah upaya pemerintah menjaga momentum pemulihan ekonomi.
Berdasarkan RatingDog China General Manufacturing Purchasing Managers’ Index (PMI) yang disusun S&P Global dan dikutip dari Reuters, indeks manufaktur China turun menjadi 50,9 pada Juli dari 51,7 pada Juni. Capaian itu juga berada di bawah proyeksi analis yang memperkirakan indeks berada di level 51,5. Dalam indikator Purchasing Managers’ Index (PMI), angka di atas 50 menunjukkan sektor manufaktur masih mengalami ekspansi.
Survei tersebut menunjukkan pertumbuhan produksi dan pesanan baru tetap berlanjut, tetapi dengan laju yang lebih lambat dibandingkan bulan sebelumnya. Sementara itu, pesanan ekspor baru kembali meningkat setelah mengalami kontraksi pada Mei dan Juni, meski kenaikannya masih relatif terbatas.
Di sisi ketenagakerjaan, S&P Global mencatat perusahaan manufaktur menambah jumlah pekerja untuk bulan kedua berturut-turut. Laju perekrutan bahkan menjadi yang tercepat sejak Agustus 2023. Selain itu, stok bahan baku terus meningkat selama delapan bulan berturut-turut, sementara tekanan biaya produksi mulai mereda dengan inflasi harga input turun ke level terendah dalam enam bulan.
Sebelumnya, National Bureau of Statistics (NBS) China juga melaporkan aktivitas manufaktur resmi kembali berada di zona kontraksi pada Juli. Data tersebut memperkuat kekhawatiran bahwa pemulihan ekonomi China masih menghadapi tantangan akibat lemahnya permintaan domestik dan tingginya biaya produksi.
Sebagai respons, para pemimpin China pada akhir Juli menegaskan akan mempercepat realisasi belanja fiskal untuk proyek-proyek infrastruktur yang telah dianggarkan pada paruh kedua tahun ini, tanpa menyiapkan paket stimulus ekonomi berskala besar. Langkah itu diambil setelah data resmi pemerintah China menunjukkan ekonomi negara tersebut hanya tumbuh 4,3 persen pada kuartal kedua 2026, di bawah kisaran target pertumbuhan tahunan sebesar 4,5 hingga 5 persen.
Meski demikian, survei S&P Global menunjukkan pelaku manufaktur masih mempertahankan optimisme terhadap prospek produksi dalam 12 bulan ke depan, didorong oleh harapan membaiknya permintaan dan berlanjutnya dukungan kebijakan pemerintah.