Warisan Militer Amerika Serikat Yang Masih Digunakan Oleh Iran: Fleksibilitas dan Keberanian
Pada 28 Februari 2026, koalisi Amerika Serikat-Israel melancarkan serangan dadakan terhadap berbagai target strategis di Republik Islam Iran setelah negosiasi de-eskalasi gagal untuk mencapai titik tengah. Dalam serangan dadakan ini, militer kedua negara melancarkan serangan terhadap berbagai fasilitas militer milik Militer Reguler Iran (Artesh) dan Korps Garda Revolusioner Islam (IRGC) serta instalasi sipil yang berkontribusi terhadap industri pertahanan negara tersebut. Tidak lama setelah serangan dadakan terjadi, Artesh dan IRGC melancarkan serangan balasan terhadap instalasi militer dan sipil koalisi Amerika Serikat-Israel di seluruh kawasan Timur Tengah. Dalam serangan balasan ini, Iran meluncurkan serangan gabungan menggunakan drone kamikaze dan rudal balistik jarak menengah (MRBM). Selain menggunakan kedua tipe senjata ini, Angkatan Udara Republik Islam Iran (IRIAF) juga berhasil melancarkan serangan udara menggunakan dua pesawat tempur F-5 Tiger ke Camp Buehring di Kuwait yang menyebabkan kerusakan signifikan. Selain itu, IRIAF juga berhadapan dengan F-16CJ milik Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) di atas langit Saudi Arabia menggunakan pesawat tempur F-4E Phantom.
Kedua ini merupakan momen bersejarah karena serangan yang dilancarkan oleh pasangan F-5 tersebut merupakan pertama kalinya dalam tujuh dekade sebuah pesawat musuh berhasil menembus pertahanan udara Amerika Serikat dan mengebom markas. Serangan ini juga mengejutkan Amerika Serikat karena sebelumnya tidak ada yang menganggap IRIAF mampu melancarkan serangan udara terhadap fasilitas militer manapun akibat dari berbagai faktor seperti keterbatasan pesawat tempur dan suku cadang, pertahanan udara berlapis yang memadai, dan asumsi bahwa Iran tidak akan menggunakan armada pesawat tempurnya untuk melancarkan serangan beresiko tinggi. Sementara itu, F-4E yang melawan F-16CJ USAF di langit Saudi Arabia juga mengejutkan karena pesawat tersebut, walaupun sudah tua, tidak mampu ditembak jatuh oleh pesawat yang telah diperbarui menggunakan teknologi terkini. Kedua hal ini menunjukkan bahwa IRIAF merupakan lawan yang tidak bisa diremehkan bahkan jika mereka hanya memiliki pesawat tua dari era Perang Vietnam.
Keberhasilan IRIAF dalam melancarkan dua aksi terpisah tersebut bukan hanya bukti pilot mereka memiliki pengalaman signifikan dan keinginan untuk mengambil resiko tinggi karena hal tersebut dapat dilakukan akibat dari warisan yang ditinggalkan oleh Amerika Serikat dari era Monarki Reza Pahlavi. Warisan tersebut, selain pesawat tempur dalam jumlah signifikan, adalah metode latihan, taktik tempur, dan budaya institusional yang diajarkan oleh penasehat militer USAF saat mereka masih melatih sebagian besar dari satuan yang saat itu dikenal dengan sebutan Angkatan Udara Kerajaan Iran (IIAF). Dalam warisan ini, pilot Iran dari eselon tertinggi hingga terendah diajarkan hal-hal penting yang menjadi tulang punggung angkatan udara modern seperti taktik pertempuran udara, cara melancarkan deep strike, pelatihan teknis untuk menggunakan dan memperbarui sistem persenjataan canggih, serta budaya fleksibilitas dalam menghadapi situasi apapun. Akibat dari warisan ini, IIAF berkembang menjadi salah satu angkatan udara paling kuat di kawasan Timur Tengah karena dibandingkan dengan rival regional yang ada saat itu seperti Irak Ba’ath dan Uni Soviet, IIAF memiliki keunggulan absolut dalam hal kemahiran teknis, kemampuan taktis, dan fleksibilitas dalam menghadapi situasi darurat. Keunggulan absolut ini diperkuat dengan dipromosikannya perwira berbakat seperti Letjen AU Amir Hossein Rabii, Letjen AU Nader Jahanbani, Letjen AU Mohammad Hossein Mehrmand, dan Jenderal AU Mohammad Amir Khatami ke posisi tinggi seperti Kepala Staf IIAF, Kepala Departemen Perencanaan dan Organisasi IIAF, dan Kepala Komando Udara Taktis IIAF karena penunjukkan mereka mempercepat reformasi internal AU Iran.
Pasca revolusi tahun 1979, warisan ini tetap bertahan walaupun sebagian besar dari perwira tinggi yang sebelumnya menjadi pelopor dalam mereformasi AU dieksekusi oleh Rezim Ayatollah Khomeini atau terpaksa melarikan diri ke berbagai negara seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis untuk menghindari nasib serupa. Alhasil saat Irak Ba’ath melancarkan invasi terhadap Khorramshahr, AU Iran yang dinamai ulang menjadi IRIAF berhasil mempertahankan wilayah udara nasional dari serangan AU Irak sekaligus melancarkan sebuah serangan strategis terhadap pangkalan udara H-3 pada tahun 1981 yang menghancurkan sebagian besar dari aset strategis musuh. Selain mendapatkan prestasi signifikan dalam medan perang, mekanik dan insinyur yang masih menetap di IRIAF pasca revolusi juga berhasil mempertahankan kesiapan operasional armada pesawat tempur yang ada dengan melakukan kanibalisasi bagian dari pesawat tempur yang sengaja dialihkan untuk menjadi ‘bank bagian’. Seluruh aksi ini, baik itu di medan pertempuran ataupun di lapangan udara, menunjukkan bahwa etos improvisasi dan adaptabilitas yang ditanamkan sejak era Shah Pahlavi tetap bertahan bahkan setelah petinggi yang menanamkan mentalitas tersebut dibunuh oleh Ayatollah Khomeini. Hasil dari seluruh faktor ini dapat dilihat dalam konflik yang berlangsung hingga saat ini karena IRIAF, walaupun memiliki peran minimal dibandingkan dengan IRGC, masih memiliki kemampuan untuk mempertahankan aset dan memberikan kerusakan maksimal terhadap musuh.