Pada 18 Agustus 2025 Menteri Luar Negeri (Menlu) Jepang Iwaya Takeshi dan Menlu Jerman Johann Wadephul menyelenggarakan pertemuan di Rumah Tamu Iikura Tokyo untuk melaksanakan dialog strategis bilateral pertama antara kedua negara. Dalam pertemuan tersebut Menlu Iwaya mengapresiasi kunjungan Menlu Wadephul ke Negeri Sakura dan menekankan pentingnya kerja sama antara Negeri Sakura dan Negeri Industri untuk menghadapi tantangan global. Iwaya menambahkan bahwa hubungan antara kawasan Euro-Atlantik dan Indo-Pasifik semakin erat sehingga dialog strategis antara Jepang dan Jerman perlu ditingkatkan. Selain itu Iwaya juga menyatakan bahwa kerja sama antara Jerman dan Jepang perlu ditingkatkan karena saat ini tata kelola global sedang menghadapi tantangan besar.
Menanggapi hal tersebut Menlu Jerman Johann Wadephul menyampaikan apresiasi terhadap Jepang dan menyatakan bahwa Negeri Sakura dan Negeri Industri memiliki persahabatan yang dekat dan komprehensif. Menlu Wadephul menambahkan bahwa dalam masa krisis dan konflik perlu ada kepatuhan terhadap nilai bersama, hukum internasional, dan prinsip demokrasi. Selain itu Menlu Johann memperingatkan bahwa China sedang berusaha untuk mengubah status quo dengan meningkatkan aksi agresif di Selat Taiwan, Laut China Timur, dan Laut China Selatan. Menlu Johann menganggap aksi yang dilancarkan Negeri Tirai Bambu bersifat eskalatif dan merupakan ancaman bagi keamanan global dan perdagangan internasional. Merespons pernyataan tersebut Juru Bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China, Mao Ning menekankan bahwa Taiwan merupakan isu internal Negeri Tirai Bambu dan mendorong seluruh pihak untuk menyelesaikan sengketa melalui dialog.
Kerja sama pertahanan antara Jepang dan Jerman telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Pada Juli 2024 Jepang dan Jerman menandatangani perjanjian persetujuan pengadaan dan pertukaran layanan (ACSA). Dalam perjanjian tersebut pertukaran amunisi, perbekalan, serta bahan bakar antara Pasukan Pertahanan Jepang (JSDF) dan Angkatan Bersenjata Jerman (Bundeswehr) dipermudah. Selain itu pada 1 Juli 2025 Duta Besar (Dubes) Jerman untuk Jepang Petra Sigmund menyatakan keinginannya untuk meningkatkan kerja sama industri pertahanan antara Negeri Sakura dan Negeri Industri. Dubes Petra menambahkan bahwa tujuan utama dari kerja sama tersebut adalah untuk meningkatkan interoperabilitas antara sistem persenjataan buatan Jepang dan Jerman.