Pesawat tempur F-16D milik Republic of Singapore Air Force (RSAF) yang mengikuti latihan udara multinasional Red Flag Alaska 2026 menarik perhatian pengamat pertahanan setelah terlihat mengoperasikan pod peperangan elektronik (electronic warfare/EW) buatan Israel, ELTA EL/L-8212.
Kemunculan sistem tersebut terlihat dalam dokumentasi resmi latihan yang dirilis oleh Kementerian Pertahanan Singapura (MINDEF), yang juga mengonfirmasi keikutsertaan RSAF dalam latihan udara terbesar yang dipimpin Angkatan Udara Amerika Serikat di Pangkalan Udara Eielson, Alaska. Menurut MINDEF, RSAF mengerahkan 10 pesawat F-16 dan delapan F-15SG serta lebih dari 250 personel dalam latihan tersebut.
Pod EL/L-8212 dikembangkan oleh ELTA Systems, anak perusahaan Israel Aerospace Industries (IAI), sebagai sistem perlindungan diri bagi pesawat tempur yang beroperasi di lingkungan dengan ancaman radar tinggi. Sistem ini mampu mendeteksi, mengidentifikasi, mengklasifikasikan, dan mengganggu radar lawan secara otomatis tanpa memerlukan intervensi pilot.
Dengan bobot sekitar 100 kilogram dan desain menyerupai rudal udara-ke-udara, pod ini dapat dipasang pada titik gantung luar pesawat tanpa mengurangi kapasitas pembawaan senjata utama. Sistem tersebut dirancang khusus untuk pesawat tempur ringan seperti F-16, sementara varian yang lebih besar, EL/L-8222, diperuntukkan bagi platform seperti F-15.
Modernisasi F-16 Singapura Terus Berlanjut
Penggunaan pod EL/L-8212 juga menjadi indikasi bahwa program peningkatan kemampuan F-16 Singapura masih terus berlangsung. Dalam beberapa tahun terakhir, RSAF telah meningkatkan armada F-16 dengan radar Active Electronically Scanned Array (AESA), sistem data-link Link-16, peningkatan avionik, serta integrasi rudal udara-ke-udara generasi terbaru.
MINDEF sebelumnya menyatakan bahwa program upgrade tersebut bertujuan mempertahankan relevansi armada F-16 hingga kedatangan penuh pesawat tempur generasi kelima F-35.
Hubungan Pertahanan Singapura-Israel Kian Terlihat
Kemunculan pod Israel pada pesawat tempur Singapura juga kembali menyoroti eratnya hubungan pertahanan kedua negara yang telah berlangsung sejak Singapura meraih kemerdekaan pada 1965.
Sejumlah kajian sejarah militer mencatat bahwa Israel membantu membangun fondasi awal Angkatan Bersenjata Singapura (Singapore Armed Forces/SAF), mulai dari doktrin pertahanan, struktur organisasi, hingga pelatihan personel. Model wajib militer yang diterapkan Singapura juga memiliki sejumlah kemiripan dengan sistem yang digunakan Israel.
Kerja sama tersebut kemudian berkembang ke sektor industri pertahanan. Singapura mengoperasikan berbagai sistem buatan Israel, termasuk rudal Python-5, pod penargetan Litening, teknologi pengintaian, serta sistem peperangan elektronik.
Transformasi Kekuatan Udara Singapura
Modernisasi yang mencakup radar AESA, rudal udara-ke-udara generasi terbaru, sistem peperangan elektronik EL/L-8212, serta pengadaan pesawat tempur F-35 menunjukkan upaya berkelanjutan RSAF dalam memperkuat kemampuan tempur dan menjaga kesiapan operasional armada udaranya.
Keikutsertaan Singapura dalam latihan Red Flag Alaska 2026 sekaligus memperlihatkan bagaimana negara tersebut terus memperkuat interoperabilitas dengan Amerika Serikat sambil mempertahankan hubungan teknologi pertahanan yang erat dengan Israel.