Lembaga pemantau global Integrated Food Security Phase Classification (IPC) merilis laporan terbaru pada Jumat (22/8) dan menyatakan Gaza resmi mengalami kelaparan. IPC menyebut sekitar 514.000 orang, atau hampir seperempat populasi Gaza, kini berada dalam kondisi kelaparan, dan angka tersebut diperkirakan meningkat menjadi 641.000 orang pada akhir September 2025.
Menurut laporannya, Gaza dan sekitarnya memenuhi tiga kriteria “famine”: lebih dari 20% rumah tangga mengalami kekurangan pangan ekstrem, sepertiga anak-anak menderita malnutrisi akut, dan dua dari setiap 10.000 orang meninggal setiap hari akibat kelaparan atau penyakit terkait.
Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyebut kelaparan Gaza sebagai “bencana buatan manusia, kecaman moral, dan kegagalan kemanusiaan itu sendiri.” Kepala HAM PBB Volker Türk memperingatkan bahwa kematian akibat kelaparan dapat dikategorikan sebagaikejahatan perang.
Sementara itu, Israel membantah laporan IPC. Pemerintah Israel menyebut temuan IPC “tidak akurat”, dan menegaskan bahwa mereka telah membuka jalur bantuan kemanusiaan keGaza. Kementerian Pertahanan Israel menyatakan pihaknya bekerja sama dengan komunitas internasional untuk menyalurkan pasokan makanan dan obat-obatan. Menurut Israel, lebihdari dua juta ton bantuan telah dimasukkan ke Gaza sejak perang dimulai, setara dengan lebih dari satu ton per penduduk. Militer Israel juga menyatakan bahwa pasokan bantuan terakhir telah menurunkan harga pangan di pasar Gaza.
Disisi lain, UNICEF mengecam perdebatan politik atas data kelaparan yang terjadi. “Sangat tidak senonoh”, ujar seorang pejabat UNICEF, menyesalkan bahwa perdebatan itu mengalihkan perhatian dari kenyataan ribuan anak Gaza kini dalam kondisi gizi buruk.
Kecaman internasional pun kian meluas. Wakil Perdana Menteri Irlandia Simon Harris mendesak Uni Eropa mengambil tindakan, termasuk kemungkinan sanksi terhadap Israel, dengan alasan blokade Gaza melanggar kewajiban hak asasi manusia. Inggris, Kanada, Australia, serta sejumlah negara Eropa lain juga menilai krisis kemanusiaan di Gaza telah mencapai “tingkat yang tak terbayangkan” dan menuntut Israel membuka akses penuh untuk distribusi makanan, obat-obatan, dan bahan bakar.
Adapun situasi di lapangan terus berlanjut mencekam. Pada 24 Agustus, dikabarkan sedikitnya empat warga Palestina tewas ditembak pasukan Israel ketika berusaha mendapatkan bantuan di dekat Gaza. Data kesehatan setempat juga mencatat 289 orang telah meninggal akibat malnutrisi, termasuk 115 anak-anak.