Gubernur Bank Sentral China Dorong Konsensus Keuangan Global Baru
Gubernur Bank Sentral China, Pan Gongsheng, mengusulkan peningkatan kerja sama keuangan dengan negara-negara berkembang dan membantu mereka mendapatkan pengaruh lebih besar dalam lembaga-lembaga keuangan global, termasuk Dana Moneter Internasional (IMF).
Pan berkomitmen untuk bekerja sama dengan negara-negara Teluk guna mempromosikan stabilitas mata uang, memperluas investasi keuangan bilateral, dan menciptakan sistem pembayaran yang terintegrasi. Selain itu, negara ini juga siap bekerja sama dengan negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC-Gulf Cooperation Council) dalam hal mata uang digital dan upaya pencegahan pencucian uang.
China telah lama berupaya untuk menginternasionalisasi yuan, dalam mengurangi ketergantungan pada dolar AS dan meningkatkan otonomi keuangannya guna memfasilitasi perdagangan dan investasi global. Langkah ini juga merupakan bagian dari visi Presiden Xi Jinping untuk menjadikan China sebagai kekuatan finansial global.
Dalam konferensi yang diselenggarakan oleh IMF dan Kementerian Keuangan Saudi, Pan mendorong pasar negara berkembang untuk meningkatkan fleksibilitas nilai tukar dan memperkuat kerja sama guna menjaga stabilitas keuangan di tengah volatilitas mata uang yang tinggi. “Negara berkembang menghadapi tantangan besar seperti risiko geopolitik, fragmentasi ekonomi, proteksionisme perdagangan yang meningkat, pertumbuhan jangka menengah yang melambat, volatilitas pasar keuangan, tekanan aliran modal lintas negara, dan meningkatnya risiko utang global,” ungkap Pan di Alula, Arab Saudi.
Pan juga menekan IMF untuk memperluas dukungan terhadap negara berkembang dan mempercepat reformasi sistem kuota IMF agar lebih mencerminkan struktur ekonomi global saat ini, karena beberapa negara memiliki kekuatan suara yang tidak sebanding dengan ukuran ekonomi mereka. “Reformasi kuota sangat penting untuk tata kelola, representasi, dan legitimasi IMF,” tambahnya.
Saat ini, China memiliki hak suara 6,09% di IMF, jauh lebih rendah dibandingkan dengan 16,5% yang dimiliki Amerika Serikat, meskipun China menyumbang sekitar 18% dari output ekonomi global. Sebagai langkah selanjutnya, pemerintah China berencana untuk menerapkan kebijakan fiskal yang lebih proaktif dan kebijakan moneter yang lebih longgar untuk memperkuat momentum pemulihan ekonomi domestik, sambil menjaga kestabilan yuan untuk mendukung stabilitas ekonomi dan keuangan global.
Di sisi lain, dengan meningkatnya nilai dolar AS, yang melemahkan mata uang selain dolar, China berkomitmen untuk menjaga stabilitas yuan dan tidak akan melemahkan mata uangnya untuk mengimbangi dampak tarif AS.