Tentara Suriah dan Rusia Tingkatkan Serangan Udara Terhadap Pemberontak Suriah
Pada 2 Desember 2024 pesawat tempur milik Angkatan Bersenjata Suriah dengan bantuan Angkatan Udara dan Angkasa Rusia (VKS) meningkatkan serangan udara terhadap kelompok pemberontak Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) yang dipimpin oleh Hayat Tahrir Al Sham (HTS). Serangan tersebut dilakukan setelah HTS dengan bantuan lain FSA melancarkan sebuah serangan kejutan pada 27 November yang berhasil menguasai (Kota dan Provinsi) Aleppon dan ratusan pemukiman dalam waktu cepat. Menurut Organisasi Pengamat Hak Asasi Manusia di Suriah (SOHR) serangan udara yang dilancarkan Angkatan Bersenjata Suriah dan VKS terhadap Kota Idlib dan Aleppo telah menewaskan sekitar 417 pemberontak dan warga sipil. Selain itu organisasi sukarela White Helmets menyatakan dalam media sosial X/Twitter bahwa serangan yang dilancarkan menargetkan fasilitas kesehatan seperti rumah sakit.
Selain melancarkan serangan udara Angkatan Darat Arab Suriah (SAA) juga menyiapkan sebuah garis pertahanan di dekat Kota Hama untuk menghentikan laju dari pasukan HTS dan FSA. Selain itu Iran juga mengirimkan milisi dari Iraq untuk membantu SAA dalam mempertahankan garis pertahanan tersebut. Berdasarkan pernyataan dari seorang perwira milisi Iraq 200 milisi telah memasuki Suriah dengan menggunakan mobil truk pikap melewati lintas perbatasan Qa’im dekat kota Abu Kamal di Provinsi Deir Ez-Zor. Selain itu Iran juga mengirimkan personil tambahan dari Korps Garda Revolusioner Islam (IRGC) melalui jalur udara. Aksi yang dilakukan Iran selaras dengan pernyataan yang diberikan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi dalam pertemuannya dengan Presiden Republik Arab Suriah Bashar Al-Assad pada 1 Desember 2024. Dalam pernyataan tersebut Iran mengafirmasi dukungan mereka terhadap pemerintahan Bashar Al-Assad dalam upaya untuk menghancurkan organisasi teroris.
Di sisi lain Amerika Serikat, Inggris Raya, Jerman, dan Prancis mengeluarkan pernyataan bersama yang mendorong deeskalasi dan menjelaskan bahwa Traktat Pertahanan Atlantik Utara (NATO) sedang mengamati perkembangan situasi yang ada. Amerika Serikat menambahkan bahwa keengganannya untuk mengimplementasikan Resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 2254 tahun 2015 sebagai penyebab utama HTS dan FSA melancarkan serangan militer. Sementara itu Sekretaris Jendral PBB Antonio Guterres mendesak seluruh pihak untuk menghentikan pertempuran dan mengimplementasikan resolusi 2254.