Ketika Rudal Menipis, Daya Tangkal Amerika Mulai Diuji

Perang Amerika Serikat melawan Iran memperlihatkan persoalan yang melampaui berkurangnya persediaan persenjataan, karena konflik berintensitas tinggi menguji kemampuan Washington mempertahankan operasi ketika konsumsi amunisi berlangsung lebih cepat daripada kemampuan industri pertahanan menggantikannya. Reuters melaporkan bahwa setelah lima bulan perang, militer Amerika Serikat telah menggunakan hampir seluruh persediaan long-range precision missiles tertentu, terutama Army Tactical Missile Systems (ATACMS) dan Precision Strike Missiles (PrSM). Laporan yang sama menyebut hampir separuh persediaan Tomahawk Angkatan Laut telah digunakan, sementara persediaan interceptor pertahanan udara juga mengalami tekanan.

Army Tactical Missile Systems (ATACMS) merupakan rudal balistik taktis untuk menyerang sasaran darat dari jarak jauh, sedangkan Precision Strike Missiles (PrSM) merupakan sistem generasi baru dengan kemampuan serangan presisi dan jangkauan lebih jauh. Keduanya penting karena memungkinkan Amerika Serikat menyerang sasaran bernilai tinggi tanpa selalu menempatkan pesawat dan personel pada jarak dekat dengan pertahanan lawan. Berkurangnya persediaan tidak hanya menjadi persoalan logistik, tetapi juga dapat mengurangi fleksibilitas operasi dalam menghadapi konflik berikutnya.

Tekanan serupa terlihat pada sistem pertahanan udara yang harus mempertahankan pangkalan dan aset Amerika Serikat dari serangan rudal Iran. Patriot merupakan sistem pertahanan udara dan rudal yang menggunakan beberapa jenis interceptor, termasuk Patriot Advanced Capability-3 Missile Segment Enhancement (PAC-3 MSE), sedangkan Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) dirancang untuk menghadapi ancaman rudal balistik. Reuters melaporkan bahwa sekitar 65 persen interceptor Patriot dan 38 persen interceptor THAAD Amerika Serikat telah digunakan sejak perang dimulai pada Februari 2026. Center for Strategic and International Studies (CSIS) kemudian memperkirakan persediaan Patriot berada di bawah 1.000 interceptor dan THAAD sekitar 250 interceptor pada akhir Juli.

Persoalan utama muncul karena kemampuan produksi tidak dapat mengikuti konsumsi perang secara seketika. CSIS memperkirakan bahwa berdasarkan proyeksi pengiriman Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Tomahawk, THAAD, dan Patriot membutuhkan setidaknya tiga tahun untuk kembali ke tingkat persediaan sebelum perang. Standard Missile-3 (SM-3) dan Standard Missile-6 (SM-6) diperkirakan membutuhkan sekitar dua tahun, sedangkan Joint Air-to-Surface Standoff Missile (JASSM) dan Precision Strike Missile (PrSM) membutuhkan waktu beberapa bulan hingga sekitar satu tahun. Estimasi tersebut menunjukkan bahwa pemulihan persediaan bukan proses yang dapat diselesaikan hanya dengan meningkatkan produksi dalam jangka pendek.

Tomahawk menjadi contoh penting mengenai persoalan tersebut. Rudal jelajah ini digunakan untuk menyerang sasaran darat dari kapal permukaan dan kapal selam, sehingga menjadi salah satu instrumen serangan jarak jauh Amerika Serikat. CSIS memperkirakan lebih dari 1.000 Tomahawk telah digunakan selama perang Iran, sementara produksi historisnya rata-rata hanya sekitar 86 rudal per tahun sepanjang tahun fiskal 2015-2026. Meskipun kapasitas produksi direncanakan meningkat hingga lebih dari 1.000 rudal per tahun, pengiriman berdasarkan kontrak yang ada diperkirakan baru dapat mengembalikan persediaan Amerika Serikat ke tingkat sebelum perang pada akhir 2030.

Ketergantungan terhadap amunisi tersebut membawa persoalan logistik ke ranah daya tangkal. Deterrence atau daya tangkal tidak hanya dibangun melalui kemampuan menyerang lawan, tetapi juga keyakinan bahwa kemampuan tersebut dapat dipertahankan apabila perang berlangsung lebih lama dari perkiraan. CSIS menilai tingginya penggunaan amunisi dalam perang Iran telah menciptakan window of vulnerability bagi kemungkinan konflik lain, terutama karena sejumlah sistem yang digunakan di Timur Tengah juga diperlukan dalam skenario perang di kawasan Indo-Pasifik.

China menjadi pihak yang paling berkepentingan mengamati kondisi tersebut karena konflik di sekitar Taiwan akan membutuhkan persediaan rudal serang jarak jauh, pertahanan udara, dan amunisi presisi dalam jumlah besar. Apabila persediaan Amerika Serikat membutuhkan beberapa tahun untuk kembali ke tingkat sebelum perang, Beijing memperoleh informasi strategis mengenai hubungan antara konsumsi amunisi, kapasitas produksi, dan kesiapan Washington menghadapi konflik berkepanjangan. Persoalannya bukan apakah Amerika Serikat masih unggul, melainkan seberapa cepat keunggulan tersebut dapat dipulihkan setelah digunakan dalam perang intensif.

Rusia juga memiliki kepentingan terhadap perkembangan tersebut karena Amerika Serikat harus mempertahankan komitmen keamanan di beberapa kawasan secara bersamaan. Persediaan yang digunakan di Timur Tengah pada akhirnya harus bersaing dengan kebutuhan pertahanan Eropa dan Indo-Pasifik, terutama ketika sekutu Amerika Serikat juga membutuhkan sistem persenjataan yang sama. CSIS mencatat bahwa Amerika Serikat menghadapi persoalan distribusi karena harus mengisi kembali persediaannya sendiri sekaligus memenuhi kebutuhan sekutu dan mitra.

Tekanan tersebut tidak berarti Amerika Serikat telah kehilangan superioritas militernya. Washington masih memiliki basis industri pertahanan yang besar dan sedang meningkatkan kapasitas produksi. Pada 3 Agustus 2026, Departemen Pertahanan Amerika Serikat menandatangani kesepakatan lebih dari 3 miliar dolar AS untuk meningkatkan produksi komponen interceptor Patriot dan THAAD, dengan target kapasitas produksi Patriot meningkat tiga kali lipat dan THAAD empat kali lipat. Langkah tersebut menunjukkan bahwa Washington memahami persoalan industrial capacity, meskipun peningkatan kapasitas tidak langsung mengembalikan persediaan yang telah digunakan.

Perbedaan antara kemampuan memenangkan satu operasi dan kemampuan mempertahankan perang berkepanjangan karena itu menjadi semakin penting dalam menilai kekuatan Amerika Serikat. Teknologi menentukan kualitas kemampuan tempur, persediaan menentukan kedalaman penggunaannya, sedangkan industri pertahanan menentukan berapa lama kemampuan tersebut dapat dipertahankan. Perang Iran dengan demikian menjadi stress test terhadap daya tangkal Amerika: bukan karena Washington telah kehilangan superioritas, tetapi karena konflik tersebut memperlihatkan bahwa bahkan kekuatan militer terbesar tetap menghadapi batas ketika konsumsi amunisi bergerak lebih cepat daripada pemulihan persediaan.