Pada 21 September 2026, Komandan Korps III Angkatan Darat Ukraina (SVZSU) Brigadir Jenderal (Brigjen) Andrii Biletskyi menyatakan bahwa pasukannya sedang melancarkan serangan masif terhadap pasukan Rusia di Provinsi Donetsk yang diberi nama sebagai Operasi Vivaldi. Dalam serangan ini, Brigjen Biletskyi menyatakan operasi ini memiliki empat tahap yang bertujuan untuk memukul mundur unit 20th Guards Combined Arms Army Angkatan Darat Rusia dari sektor Kota Lyman ke sekitar Sungai Zheberets. Dilansir dari Intellinews, sejauh ini Operasi Vivaldi telah berhasil membebaskan sekitar 125km persegi wilayah dari pendudukan pasukan Rusia dan menewaskan setidaknya 3,800 prajurit Rusia. Deputi Komandan Korps III SVZSU Senior Letnan Petro Horbatenko menambahkan per hari ini ada beberapa pemukiman baru yang berhasil dibebaskan namun detailnya ditahan sementara untuk menjaga keamanan informasi.
Operasi ini merupakan perkembangan signifikan karena selain berhasil membebaskan wilayah baru, Korps III juga berhasil melancarkan serangan terjun payung drone yang bertujuan untuk mengikis kemampuan komando dan kendala pasukan Rusia. Dalam serangan ini, Korps III menerjunkan drone kamikaze darat (UGV) menggunakan sebuah bomber drone 10 km di belakang garis musuh untuk menargetkan target vital seperti depot pasokan dan pusat komando. Setelah UGVberhasil menyerang target vital, infanteri dengan bantuan sistem pertahanan udara dan pernika melancarkan aksi serupa untuk membersihkan wilayah yang berhasil dibebaskan dari kehadiran pasukan Rusia. Dukungan yang diberikan oleh sistem pertahanan udara dan pernika penting dalam taktik ini karena mereka menggerus kemampuan drone Rusia sehingga musuh tidak dapat memberikan respon efektif terhadap serangan prajurit dan drone Ukraina. Menanggapi perkembangan ini, Komandan Batalion pasukan nirawak Brigade Gempur Ke-3 SVZSU Viktor Pavlov menyatakan walaupun taktik ini memberikan hasil baik memiliki beberapa kekurangan seperti faktor alam yang dapat mempengaruhi pengerahan drone dan keterbatasan komunikasi. Viktor menekankan taktik yang digunakan oleh Korps III merupakan sebuah solusi terbatas, bukan cetak biru bagi unit lain.
Sejak Rusia melancarkan invasi terhadap Ukraina pada 24 Februari 2022, Militer Ukraina (ZSU) telah berupaya untuk memperkuat kapabilitas tempur mereka dengan mengerahkan drone sebagai force multiplier untuk menahan serangan dan membebaskan wilayah dari pasukan Rusia. Pengerahan drone dalam skala besar seperti yang terjadi dalam Operasi Vivaldi merupakan tahapan baru dalam upaya ini. Sebelumnya, Ukraina telah melakukan serangan serupa menggunakan drone FPV dan UGV namun aksi ini bersifat skala kecil dan seringkali memiliki dampak terbatas di medan pertempuran.