Uni Eropa mulai memperketat kebijakan perdagangan dan rantai pasok terhadap China di tengah meningkatnya kekhawatiran mengenai dominasi industri Beijing dalam sektor strategis global. Langkah tersebut muncul setelah sejumlah negara Eropa menilai ketergantungan yang terlalu besar terhadap China dapat menimbulkan risiko ekonomi sekaligus geopolitik di masa depan. Laporan Modern Diplomacy menyebutkan bahwa Uni Eropa kini sedang mendorong kebijakan diversifikasi rantai pasok untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku dan produk industri asal China. Fokus utama kebijakan tersebut berada pada sektor semikonduktor, kendaraan listrik, energi hijau, dan industri pertahanan.
Menurut laporan tersebut, para pembuat kebijakan di Eropa khawatir China memiliki dominasi besar dalam pengolahan dan distribusi material penting yang dibutuhkan industri modern. Kekhawatiran itu semakin meningkat setelah Beijing beberapa kali menggunakan pembatasan ekspor mineral strategis sebagai instrumen tekanan ekonomi dalam rivalitas global. Selain itu, Uni Eropa juga mulai mempertimbangkan langkah perdagangan tambahan, termasuk kemungkinan tarif baru terhadap sejumlah produk industri China. Kebijakan tersebut dipandang sebagai bagian dari upaya mengurangi ketidakseimbangan perdagangan antara Brussels dan Beijing yang terus melebar dalam beberapa tahun terakhir.
Situasi ini terjadi di tengah memburuknya hubungan ekonomi antara Barat dan China akibat persoalan overcapacity industry, subsidi negara, serta persaingan teknologi global. Dalam beberapa tahun terakhir, produk-produk China seperti kendaraan listrik, panel surya, baterai, dan komponen teknologi dinilai membanjiri pasar global dengan harga yang sangat murah sehingga memicu kekhawatiran terhadap keberlangsungan industri lokal di Eropa.
Uni Eropa juga mulai memperkuat koordinasi dengan Amerika Serikat dalam pengamanan rantai pasok mineral kritis dan teknologi strategis. Washington dan Brussels sedang meningkatkan kerja sama untuk mencari sumber alternatif di luar China, terutama untuk kebutuhan semikonduktor, energi terbarukan, dan sistem pertahanan. Meski demikian, upaya mengurangi ketergantungan terhadap China bukan hal mudah. China masih menjadi salah satu pusat manufaktur terbesar dunia dengan kapasitas produksi, bahan baku, dan jaringan industri yang sangat sulit digantikan dalam waktu singkat.
Karena itu, kebijakan baru Uni Eropa diperkirakan tidak akan mengarah pada pemutusan hubungan ekonomi sepenuhnya dengan China, melainkan lebih pada strategi de-risking atau pengurangan risiko ketergantungan agar Eropa memiliki rantai pasok yang lebih aman dan beragam di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global.