Dalam beberapa waktu terakhir, ekonomi China kembali menunjukkan kinerja yang relatif kuat di tengah ketidakpastian global. Data menunjukkan bahwa ekonomi China tumbuh sekitar 5 persen pada kuartal pertama 2026, meningkat dibandingkan periode sebelumnya yakni 4,8 persen. Pertumbuhan ini didorong oleh ekspor yang tetap solid serta peningkatan produksi industri di sektor teknologi dan manufaktur. Secara sepintas, angka tersebut memberikan kesan bahwa China mampu mempertahankan stabilitas ekonominya meskipun dunia sedang menghadapi tekanan akibat konflik di Timur Tengah, khususnya konflik Iran.
Namun, jika dilihat lebih dalam, kondisi tersebut tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan yang stabil. Konflik Iran yang berkembang sejak awal 2026 telah menciptakan tekanan terhadap sistem ekonomi global, terutama melalui gangguan pada jalur distribusi energi dan meningkatnya ketidakpastian pasar. Selat Hormuz sebagai salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia berada dalam kondisi yang tidak stabil, sehingga berdampak pada harga energi dan biaya produksi global. Dalam situasi seperti ini, negara yang sangat terintegrasi dalam ekonomi global, termasuk China, tidak dapat sepenuhnya terlepas dari dampaknya. Melalui pendekatan Hegemonic Stability Theory yang dikembangkan oleh Robert Gilpin, berpendapat bahwa stabilitas ekonomi global sangat bergantung pada keberadaan kekuatan dominan yang mampu menjaga keteraturan sistem internasional. Ketika kekuatan tersebut melemah atau ketika muncul pesaing baru, sistem global cenderung menjadi lebih tidak stabil. Dalam konteks saat ini, dunia tidak lagi berada dalam kondisi dominasi tunggal yang kuat, melainkan bergerak menuju sistem yang lebih terfragmentasi. Kondisi ini membuat konflik regional seperti yang terjadi di Iran memiliki dampak yang lebih luas dan sulit dikendalikan.
Maka dari, itu, konflik Iran tidak hanya menjadi persoalan kawasan, tetapi juga mencerminkan ketidakseimbangan dalam sistem global. Ketika tidak ada kekuatan yang benar-benar mampu menjamin stabilitas jalur energi dan perdagangan internasional, maka gangguan yang terjadi akan dengan cepat menyebar ke berbagai negara. China sebagai salah satu aktor utama dalam perdagangan global, berada dalam posisi yang sangat terpapar terhadap dinamika tersebut. Pertumbuhan ekonomi China sebesar 5 persen pada awal 2026, dengan demikian lebih tepat dipahami sebagai kemampuan jangka pendek dalam menjaga momentum, bukan sebagai indikator stabilitas jangka panjang. Hal ini terlihat dari masih lemahnya konsumsi domestik yang menjadi salah satu tantangan utama. Pertumbuhan penjualan ritel yang relatif rendah menunjukkan bahwa permintaan dalam negeri belum sepenuhnya pulih, sehingga ekonomi China masih sangat bergantung pada sektor eksternal, terutama ekspor.
Ketergantungan ini menjadi titik penting dalam memahami kerentanan China terhadap konflik global. Ketika konflik Iran memicu ketidakpastian ekonomi dunia, permintaan terhadap produk ekspor berpotensi melemah. Selain itu, kenaikan harga energi akibat gangguan di Timur Tengah juga dapat meningkatkan biaya produksi di dalam negeri. Kondisi ini secara langsung memengaruhi daya saing industri China di pasar global. Dalam situasi seperti ini, kekuatan ekonomi yang besar justru membawa konsekuensi berupa tingkat paparan yang lebih tinggi terhadap risiko eksternal. Lebih jauh lagi, situasi ini menunjukkan bahwa perubahan dalam struktur kekuasaan global membawa implikasi yang signifikan. Menurut Gilpin, perubahan distribusi kekuatan ekonomi sering kali diiringi oleh ketegangan dan ketidakstabilan. Kebangkitan China sebagai kekuatan ekonomi besar terjadi bersamaan dengan perubahan peran Amerika Serikat dalam sistem global. Ketika keseimbangan ini belum sepenuhnya terbentuk, ruang bagi konflik menjadi lebih terbuka. Konflik Iran menjadi salah satu contoh bagaimana ketidakstabilan regional dapat berkembang menjadi tekanan global.
Di sisi lain, kemampuan China untuk tetap mencatat pertumbuhan di tengah kondisi tersebut menunjukkan adanya kapasitas adaptasi yang cukup kuat. Pemerintah China terus mendorong sektor industri dan teknologi sebagai penopang utama pertumbuhan. Namun, langkah ini belum sepenuhnya mengatasi masalah struktural yang ada, terutama dalam hal ketergantungan terhadap pasar global dan kebutuhan energi impor. Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini mencerminkan perubahan dalam cara kekuatan ekonomi bekerja di era modern. Kekuatan tidak lagi hanya diukur dari besarnya pertumbuhan, tetapi dari kemampuan untuk bertahan dalam sistem global yang tidak stabil. China mungkin mampu mempertahankan pertumbuhan dalam jangka pendek, tetapi keberlanjutan pertumbuhan tersebut sangat bergantung pada stabilitas sistem global yang berada di luar kendalinya.
Selain itu, konflik Iran juga memperlihatkan bahwa faktor geopolitik tetap memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi global. Meskipun globalisasi telah menciptakan keterhubungan yang luas, konflik di satu wilayah tetap dapat memengaruhi negara lain secara signifikan. Dalam hal ini, China tidak hanya menghadapi tantangan ekonomi domestik, tetapi juga harus beradaptasi dengan perubahan lingkungan global yang semakin kompleks. Pertumbuhan ekonomi China pada awal 2026 tidak dapat dilihat secara sederhana sebagai indikator kekuatan yang solid. Dalam bayang konflik Iran, angka tersebut justru mencerminkan kondisi global yang sedang mengalami ketidakpastian. Situasi ini menunjukkan bahwa stabilitas ekonomi dunia menjadi semakin rapuh ketika tidak ada kekuatan dominan yang mampu menjaga keteraturan sistem. Oleh karena itu, tantangan utama bagi China bukan hanya mempertahankan pertumbuhan, tetapi juga menavigasi sistem global yang semakin tidak stabil dan penuh risiko.