Pemerintah China menegaskan dukungannya terhadap upaya penyelesaian konflik Rusia-Ukraina melalui dialog dan negosiasi. China beranggapan bahwa dialog dan negosiasi sebagai jalan keluar yang sah dan satu-satunya dalam krisis antara Rusia dan Ukraina.Pernyataan ini disampaikan melalui Juru Bicara Kementerian Luar Negeri, Mao Ning, dalamkonferensi pers di Beijing pada Selasa (19/8)
Dalam pernyataannya, Mao Ning selaku Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa China mendukung semua upaya yang kondusif bagi perdamaian, termasuk pertemuan-pertemuan yang difasilitasi oleh Presiden AS Donald Trump, baik itu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin maupun Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky. Ia juga mengharapkan semua pihak dan pemangku kepentingan yang terlibat untuk sepakat dalam perundingan damai yang berlangsung di Washington, dengan tujuan mencapai kesepakatan yang adil, untuk jangka panjang, mengikat, serta dapat diterima semua pihak. “Tiongkok senang melihat Rusia dan AS mempertahankan kontak, meningkatkan hubungan bilateral, dan memajukan proses penyelesaian politik krisis Ukraina” ujar Mao.
Sebelumnya, sejak Februari 2025, Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, juga telahmenyerukan agar semua pemangku kepentingan berpartisipasi dalam pembicaraan damai, dengan menegaskan peran penting Eropa sebagai pihak yang memiliki kepentingan dan tanggung jawab besar di kawasan konflik. Selain itu, Presiden Xi Jinping, melalui panggilantelepon dengan Presiden Putin pada Agustus 2025, turut menyambut baik keterbukaan komunikasi antara Amerika Serikat dan Rusia serta menegaskan komitmen China terhadap solusi diplomatik dalam krisis Ukraina.
Melalui sikap yang ditunjukkannya China berupaya memperkuat citranya melalui kekuatan diplomasi yang proaktif mendorong solusi politik. Beijing berupaya menunjukkan bahwa mereka bukan aktor yang menciptakan krisis, melainkan pendorong perdamaian yang mengajak dunia internasional untuk memastikan tercapainya kesepakatan yang adil, mengikat, dan jangka panjang. Namun demikian, Presiden Finlandia, Alexander Stubb mengkritik dengan menyebut China sebenarnya memiliki pengaruh besar terhadap Rusia, menyinggung ketergantungan ekonomi Rusia terhadap China. Satu panggilan telepon dari Xi disebut dapat menghentikan perang. Namun Beijing dinilai cenderung berhati-hati dan enggan menggunakan pengaruh tersebut secara langsung untuk menekan Moskow menghentikan agresi.