Pada 29 Juli 2025 Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan telah menetapkan tenggat waktu baru selama 10 – 12 hari bagi Rusia untuk menyepakati gencatan senjata dan mengakhiri invasi terhadap Ukraina. Trump menambahkan bahwa jika Rusia tidak mengakhiri invasinya maka Amerika Serikat akan menetapkan sanksi ekonomi lebih keras terhadap Negeri Beruang. Dalam sebuah konferensi pers bersama Perdana Menteri Inggris Raya Keir Starmer, Presiden Trump menyampaikan kekecewaannya terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin karena belum ada upaya perdamaian. Selain itu Trump menyatakan tidak lagi tertarik berbincang dengan Vladimir Putin karena Rusia selalu melakukan aksi yang membuat negosiasi sulit dilakukan seperti menembakkan rudal penjelajah ke Kyiv dan kota lain di Ukraina.
Menanggapi perkembangan tersebut Kepala Kantor Kepresidenan Ukraina Andriy Yermak menyampaikan terima kasih kepada Presiden Donald Trump atas ketegasannya melalui media sosial Telegram. Andriy menambahkan bahwa Putin hanya menghormati kekuatan AS dan Presiden Trump telah menunjukan kekuatannya. Sementara itu Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menyampaikan apresiasi kepada Donald Trump yang menurutnya sedang berusaha untuk menyelamatkan masyarakat Ukraina dan menghentikan invasi yang dilancarkan Rusia. Zelenskyy menambahkan bahwa Ukraina akan terus bekerja sama dengan Amerika Serikat.
Di sisi lain, Mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev menyatakan dalam media sosial X/Twitter bahwa tenggat waktu Trump dapat menyebabkan perang terbuka antara Rusia dan Amerika Serikat. Anggota Parlemen Rusia (Duma) Andrey Gurulyov juga menyatakan bahwa ultimatum Trump tidak akan membawakan hasil apapun karena Rusia memiliki senjata, prinsip, dan tekad.
Ukraina dan Rusia sebelumnya telah melaksanakan negosiasi putaran ketiga di Istanbul Turki. Dalam negosiasi tersebut kedua negara hanya menyepakati pertukaran tawanan perang sebanyak 1200 prajurit dan gencatan senjata terbatas di beberapa sektor garis depan pertempuran. Delegasi Ukraina yang dipimpin oleh Mantan Menteri Pertahanan Rustem Umerov juga diketahui telah mengusulkan diadakannya sebuah konferensi tingkat tinggi (KTT) antara presiden Rusia, Ukraina, Amerika Serikat, dan Turki di akhir bulan Agustus, namun usulan tersebut ditolak oleh Rusia karena mereka menganggap KTT atau pertemuan apapun dengan Zelenskyy dapat dilakukan jika sudah ada traktat perdamaian yang disetujui kedua belah pihak.