Pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November 2026 diperkirakan akan memberi Partai Demokrat kemenangan, terutama di Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), sementara Senat belum memiliki kepastian. Karena itu, pertanyaan yang lebih berguna kini bukan siapa yang menang, melainkan apa artinya kemenangan itu. Berdasarkan dinamika yang ada dalam politik Amerika Serikat saat ini, kemenangan Demokrat diperkirakan akan memberikan dua dampak signifikan. Pertama, Demokrat dapat memberikan dampak dengan mengekang kepemimpinan Presiden Donald Trump. Kedua, kemenangan kandidat progresif seperti Abdul El-Sayed akan menentukan untuk apa kekuasaan itu dipakai serta faksi internal mana yang akan menjadi haluan partai.
Kedua alasan ini diberikan atas dasar pembagian kekuasaan yang ada di Amerika Serikat. Dalam hal ini, Presiden Trump memegang hak veto, sehingga Demokrat sulit meloloskan agenda besar mereka jika mereka tidak memiliki dukungan masif. Namun jika Demokrat menguasai salah satu cabang Kongres, hal tersebut akan memberi mereka kendali atas anggaran, penyelidikan, dan jadwal pemungutan suara. Di DPR, Demokrat menyiapkan agenda 100 hari pertama yang berpusat pada meringankan krisis biaya hidup masyarakat dengan memulihkan keringanan pajak asuransi kesehatan, membalik pemangkasan Medicaid, dan membatalkan tarif Trump, serta penyelidikan luas terhadap koneksi Epstein. Jalannya agenda itu bergantung pada besarnya mayoritas DPR dan Senat. Politik domestik pun akan lebih banyak berisi pengawasan dan pembendungan daripada pembaruan.
Pola yang sama berlaku dalam politik luar negeri. Perang melawan Iran dimulai tanpa persetujuan Kongres, dan satu resolusi yang membatasinya diabaikan oleh Gedung Putih. Dengan kendali anggaran, Demokrat diharapkan dapat mengekang dana untuk perang Iran dan menahan permintaan Trump menaikkan anggaran militer sebesar 67 persen. Namun perlu diingat bahwa sejarah mengingatkan kewenangan ini terbatas karena pada 2007, Kongres yang dikuasai Demokrat meloloskan dana perang Irak lengkap dengan jadwal penarikan pasukan, tetapi Presiden George W. Bush memvetonya dan DPR gagal membatalkan veto itu.
Selain itu, terdapat juga faktor Ukraina yang dapat dijadikan sebagai studi kasus. Dalam periode kedua nya, Presiden Trump hampir menghentikan bantuan untuk Ukraina walaupun terdapat dukungan lintas partai kuat di Kongres. Pada Juni, DPR meloloskan Ukraine Support Act dengan bantuan 18 anggota Republikan tetapi pimpinan Senat saat itu, Mike Johnson menahannya. Bila Demokrat berhasil menguasai DPR dan Senat, mereka yang akan menentukan RUU mana yang dimajukan, dan menurut Reuters bantuan baru berpeluang lolos dengan mayoritas dua pertiga yang kebal veto, seperti sanksi Rusia pada 2017. Bantuan itu tetap bermakna, sebab Ukraina masih mampu melancarkan serangan berkelanjutan dengan dilakukannya Operasi Vivaldi.
Di sisi lain, terdapat juga faktor lain yang cukup signifikan yaitu penolakan keras terhadap bantuan tanpa bersyarat kepada Israel. Penolakan ini ada akibat dari beberapa hal seperti genosida Gaza, meningkatnya serangan kolonis Israel terhadap warga Palestina di Tepi Barat, intervensi negatif Israel dalam politik Amerika Serikat dengan tokoh seperti Jeffrey Epstein dan organisasi lobi America-Israel Public Affairs Committee (AIPAC). Dalam hal ini, internal Partai Demokrat terpecah karena faksi moderat ingin mempertahankan dukungan tersebut sementara faksi progresif serta 80 persen dari seluruh pemilih Demokrat menginginkan agar mereka membatasi atau meniadakan seluruh bantuan Amerika Serikat kepada Israel. Oleh karena itu, jika Demokrat berhasil memenangkan pemilu sela 2026, terdapat kemungkinan bantuan militer dan ekonomi kepada Israel akan dibatasi. Akan tetapi, perlu ditekankan bahwa walaupun terdapat dorongan dan dukungan besar untuk melakukan hal tersebut, kelompok lobi dan elit politik yang diuntungkan oleh kerja sama dengan Israel akan memberikan perlawanan keras dalam bentuk apapun.
Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa jika kandidat progresif seperti Abdul El-Sayed memenangkan pemilu sela 2026, dampak pertama yang memiliki kemungkinan paling besar untuk dirasakan oleh masyarakat Amerika Serikat adalah meningkatnya ketegangan antara cabang legislatif dengan eksekutif. Ketegangan ini akan muncul karena Kongres yang dikendalikan Demokrat kemungkinan akan menggunakan kekuasaan yang dimilikinya untuk mengekang agenda domestik dan internasional Presiden Trump. Dampak kedua yang kemungkinan akan dirasakan adalah meningkatnya upaya untuk mengurangi dampak krisis biaya hidup masyarakat Amerika Serikat dengan mengedepankan kebijakan popular seperti perluasan Medicare dan Medicaid, membatasi atau melarang sepenuhnya donasi politik dari kelompok lobi dan korporasi, memberikan batasan masa jabatan bagi anggota Kongres, dan perluasan program bantuan sosial seperti Social Security.
Dampak ketiga menyangkut kepemimpinan partai. Hal ini penting karena siapapun yang dipilih untuk memimpin Partai Demokrat akan menentukan haluan dan corak partai dalam pemilu selanjutnya. Dalam hal ini terdapat keinginan untuk mengeluarkan para tokoh tua dan menggantikannya dengan tokoh lebih muda. Hal ini dapat dilihat ketiga tiga calon legislatif yakni El-Sayed, Peggy Flanagan, dan Troy Jackson menyatakan dalam wawancara resmi bahwa mereka tidak akan mendukung pencalonan ulang Hakeem Jeffries dan Chuck Schumer sebagai pimpinan Demokrat di DPR dan Senat. Penolakan ini diberikan akibat dari pandangan bahwa kedua tokoh merupakan oposisi yang dikendalikan (controlled opposition) karena mereka tidak sepenuhnya menggunakan sumber daya yang dimiliki partai untuk berupaya mencegah agenda Presiden Trump. Selain itu, dukungan absolut yang mereka berikan kepada Israel juga menjadi salah satu faktor penentu karena hal tersebut membangun persepsi bahwa mereka tidak mengerti apa yang diinginkan oleh para pendukung partai.