EU Batalkan Rencana Pembuatan Komite Tinggi Pertahanan Eropa Akibat Tekanan Internal
Pada 8 September 2026, kanal media Politico melaporkan bahwa pembentukan komite tinggi pertahanan Eropa yang digagas oleh Ketua Bidang Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan Uni Eropa (EU) Kaja Kallas terpaksa dibatalkan akibat dari tekanan politik dari negara anggota. Tekanan ini ada karena terdapat beberapa negara anggota yakni Jerman, Prancis, dan Italia menganggap pembentukan komite tinggi ini, walaupun memiliki tujuan untuk mempercepat pembangunan postur pertahanan Eropa, merupakan langkah yang saat ini kurang tepat. Menanggapi perkembangan ini, seorang diplomat EU yang memberikan pendapat secara anonim menyatakan bahwa mereka akan mengembangkan mekanisme baru yang dapat meningkatkan koordinasi pertahanan antara negara anggota.
Kegagalan pembentukan komite tinggi pertahanan Eropa merupakan sebuah perkembangan yang tidak mengejutkan karena sejak Kallas mengumumkan keinginan untuk membentuk forum tersebut, beberapa pihak dalam blok EU telah menyampaikan kekhawatiran. Kekhawatiran ini sebagian besar berputar pada argumen bahwa komite yang digagas akan beririsan dengan tugas yang saat ini sudah dipegang oleh Komisi Pertahanan EU yang dipimpin oleh Andrius Kubilius. Selain itu, terdapat juga beberapa permasalahan yang menghambat pembentukan grup tersebut seperti koordinasi antara negara anggota, komposisi yang akan digunakan, dan isu hukum domestik anggota. Walaupun demikian, terdapat juga yang menganggap kegagalan Kallas untuk membentuk komite ini sebagai bagian dari sengketa politik antara dirinya dan beberapa elemen dalam EU yang ingin mengubah Dinas Luar Negeri EU (EEAS). Dalam sengketa ini, Jerman dan Prancis mengajukan sebuah proposal yang akan memberikan Komisi Eropa (EC) kekuasaan lebih besar dalam mengatur kebijakan luar negeri EU dengan menempatkan EEAS dibawah kendali pribadi Presiden EC.
Kejadian seperti kegagalan pembentukan komite tinggi pertahanan Eropa bukan suatu hal baru karena sebelumnya, terjadi beberapa peristiwa serupa akibat dari perbedaan pandangan antara negara anggota dalam hal persepsi ancaman, kapabilitas teknis, dan alokasi anggaran. Efek dari perbedaan ini dapat dilihat pada 8 Juni 2026 saat pengembangan pesawat tempur generasi ke-6 FCAS dibatalkan akibat dari berbagai isu seperti kepemimpinan proyek, serta perbedaan persyaratan teknis antara Angkatan Udara Prancis dan Jerman. Hal ini menunjukkan bahwa walaupun negara anggota EU memiliki kesepakatan bulat bahwa postur pertahanan blok mereka harus diperkuat, terdapat kebimbangan tentang arah yang harus diambil.