Pada 28 Maret 2026, Militer Reguler Iran (Artesh) dan Korps Garda Revolusioner Islam (IRGC) melancarkan sebuah serangan rudal balistik dan drone kamikaze terhadap Pangkalan Udara Pangeran Sultan di Kerajaan Saudi Arabia. Akibat serangan tersebut, 15 personel dari Angkatan Udara Amerika Serikat (USAF) mengalami luka dan lima diantaranya sedang berada dalam kondisi kritis. Serangan ini menargetkan pesawat pengendali udara (AWACS) E-3 Sentry dan pesawat tanker KC-135 yang ditempatkan di pangkalan udara tersebut untuk membantu serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Tidak lama setelah melancarkan serangan tersebut, Juru Bicara Pusat Komando Khatam Al-Anbiya Brigjen Ebrahim Zolfaghari mengklaim mereka telah menghancurkan satu KC-135 dan merusak tiga pesawat lainnya.
Klaim ini didukung oleh gambar satelit yang menunjukkan kerusakan di tempat parkir pesawat AWACS E-3 Sentry dan KC-135 tanker. Sehari setelah gambar satelit tersebut dipublikasikan, muncul beberapa foto di media sosial X/Twitter yang menunjukkan sebuah pesawat AWACS E-3 Sentry hancur akibat dari serangan Iran. Menanggapi perkembangan ini, Direktur Riset dan Studi di Institut Kerdigantaraan Mitchell Heather Penney menyatakan hal ini merupakan sebuah pukulan signifikan karena E-3 memiliki peran penting dalam perang udara. Sementara itu, mantan perwira militer dan pemerhati konflik Preston Stewart menyampaikan kemarahannya terhadap eselon tertinggi kepemimpinan USAF karena dia menganggap mereka enggan mempelajari cara melindungi aset udara strategis dari serangan rudal dan drone musuh. Preston kemudian menekankan bahwa invasi Rusia terhadap Ukraina memberikan banyak pelajaran dalam bagaimana seharusnya USAF dapat melindungi pesawat yang berada di landasan pacu dari serangan drone atau rudal yang diluncurkan IRGC dan Artesh.
Sejak Amerika Serikat melancarkan Operasi Kemarahan Epik (Epic Fury) pada 28 Februari 2026, Iran telah melancarkan serangan rudal dan drone terhadap berbagai pangkalan Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Serangan yang dilancarkan cukup akurat dan berhasil menghancurkan atau merusak beberapa aset strategis Amerika Serikat di kawasan tersebut. Dilansir dari The Jerusalem Post, keakuratan serangan ini menunjukkan Iran telah mendapatkan bantuan intelijen dari Rusia dan China untuk membantu proses penargetan.