Pada 30 Januari 2026, kelompok teroris Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS/Daesh) menyatakan bahwa mereka telah melancarkan serangan mendadak terhadap Bandara Internasional Diori Hamani dan Pangkalan Udara Militer 101 di dekat ibu kota Niger, Niamey. Dalam aksi ini, puluhan anggota ISIS dengan senjata berat menggunakan sepeda motor untuk mendekati kedua lokasi dan menyerang pesawat yang berada di landasan pacu. Akibat dari serangan ini, setidaknya tiga pesawat sipil di Bandara Diori Hamani mengalami kerusakan signifikan. Sementara itu serangan terhadap Pangkalan Udara Militer 101 berhasil menghancurkan setidaknya satu pesawat DA-42 MPP Guardian, dua pesawat C-208 varian ISR, satu helikopter angkut Mi-17, dan satu helikopter penyerang TAI Hurkus. Selain itu ISIS juga berhasil menemukan dan menghancurkan sebuah fasilitas penyimpanan drone di pangkalan udara tersebut.
Menanggapi hal tersebut, Junta Militer Niger mengklaim bahwa mereka berhasil menewaskan setidakanya 20 anggota ISIS dan menangkap 11 yang terlibat dalam serangan tersebut. Selanjutnya, pemimpin Junta Militer Niger, Jenderal Abdourahamane Tchiani juga mengucapkan terima kasih kepada Rusia yang telah membantu militer dan aparat keamanan dalam mencegat serangan tersebut. Jenderal Tchiani juga menuduh Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Côte d’Ivoire Alassane Ouattara, dan Presiden Benin Patrice Talon sebagai dalang dari serangan yang dilancarkan oleh ISIS. Menanggapi hal tersebut, Kemenlu Pantai Gading memanggil duta besar Niger dan menyatakan bahwa tuduhan yang disampaikan Jenderal Tchiani merupakan penghinaan terhadap harga diri presiden. Sementara itu Juru Bicara pemerintah Benin, Wilfried Leandre Houngbedji menyatakan dalam konferensi pers bahwa tuduhan yang disampaikan Niger tidak memiliki dasar kuat.
Sejak Junta Militer Niger berkuasa pada tahun 2023, ISIS, JNIM, dan kelompok teroris lainnya telah meningkatkan serangan terhadap negara di kawasan Sahel. Akibat dari frekuensi serangan yang meningkat, Junta Militer Niger memutuskan untuk meminta bantuan Rusia dalam melawan para kelompok teroris. Serangan terhadap bandara dan pangkalan militer dekat Niamey menunjukkan bahwa ISIS memiliki kekuatan mumpun dan kebebasan bergerak (freedom of movement) yang cukup signifikan untuk melaksanakan operasi resiko tinggi.