Salah satu kapal selam Rusia pada 28 November lalu terpantau berada di wilayah perairan yang diklaim oleh Filipina yakni sejauh 148 km. Kapal selam Rusia bernama Ufa ini terkenal dengan kapabilitas ‘silumannya’ yang membuat Filipina khawatir. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. menilai kehadiran kapal selam tersebut di zona ekonomi eksklusif (ZEE) Filipina sangatlah meresahkan dan Ia menekankan akan adanya implikasi serius dari tindakan yang tidak sah ini.
Angkatan Laut Filipina mengirimkan kapal fregat BRP Jose Rizal untuk memantau Ufa, di mana kapal tersebut memantau keberadaan Ufa sembari berada di wilayah luar perairan Filipina. Juru bicara Angkatan Laut FIlipina Laksamana Muda Roy Vincent Trinidad mengatakan bahwa fregat tersebut berkomunikasi dengan Ufa untuk memastikan identitas dan tujuannya. Dikabarkan bahwa kapal tersebut sedang menunggu cuaca yang lebih baik untuk melanjutkan perjalanan ke Vladivostok. Pertemuan ini menyusul pemberhentian kapal selam baru-baru ini di Pangkalan Angkatan Laut Kota Kinabalu, Malaysia, sebagai bagian dari misinya ke Armada Pasifik Rusia.
Kantor berita Rusia, Tass, melaporkan bahwa kapal selam tersebut, bersamaan dengan kapal penyelamat Alatau, mereka melakukan operasi di Laut China Selatan setelah berhenti di markas angkatan laut RMN Kota Kinabalu di Malaysia pada tanggal 23 November untuk melakukan kunjungan dan latihan bersama. Seharusnya memang kapal ini harus kembali ke wilayah markas kapal selam Rusia di Semenanjung Kamchatka, yakni wilayah Timur Rusia.
Namun, para analis berspekulasi bahwa tindakan Rusia ini mungkin menandakan dukungan bagi China di tengah meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan. Analis Eduardo Araral dari National University of Singapore mengatakan bahwa penampakan ini bisa menjadi pesan strategis bagi AS, yang mengindikasikan jangkauan dan pengaruh Rusia di wilayah yang disengketakan.
Ufa, bagian dari armada Proyek 636.3 Rusia, dianggap sebagai salah satu kapal selam paling tenang di dunia dan dilengkapi dengan rudal jelajah Kaliber. Kapal ini sebelumnya telah beroperasi di Laut Baltik dan dikerahkan ke Pasifik untuk meningkatkan kekuatan angkatan laut Rusia.
Peristiwa ini terjadi ketika Filipina menghadapi konfrontasi maritim yang semakin meningkat dengan China. Insiden baru-baru ini termasuk manuver agresif oleh kapal dan helikopter penjaga pantai China di dekat kapal-kapal Filipina, yang semakin meningkatkan ketegangan regional.
Para ahli memandang kerja sama militer Rusia dan China yang semakin meningkat, yang dicontohkan oleh latihan gabungan berskala besar, sebagai penyeimbang terhadap aliansi yang dipimpin AS di Indo-Pasifik. Perkembangan terbaru ini menggarisbawahi dinamika yang kompleks dan tidak stabil yang membentuk lanskap keamanan di kawasan ini.