Jejak Baru Yuan

Selama ini, sistem keuangan internasional hampir selalu bergerak dalam orbit yang sama. Dolar Amerika Serikat menjadi mata uang utama dalam perdagangan internasional, transaksi investasi, pembiayaan lintas negara, hingga cadangan devisa bank sentral. Posisi tersebut tidak hanya mencerminkan kekuatan ekonomi Amerika Serikat, tetapi juga menunjukkan bagaimana sebuah mata uang dapat membentuk arsitektur keuangan global. Negara yang menguasai mata uang utama pada akhirnya memiliki pengaruh yang jauh melampaui batas wilayahnya.

Di tengah struktur yang relatif mapan tersebut, China memilih langkah yang berbeda. Beijing tidak menunjukkan ambisi untuk menggantikan dolar Amerika Serikat secara frontal. Sebaliknya, China secara perlahan membangun infrastruktur yang memungkinkan penggunaan yuan semakin luas dalam transaksi internasional. Pendekatan ini terlihat jelas dalam Forum Lujiazui 2025, ketika People’s Bank of China (PBOC) atau Bank Sentral China memperkenalkan serangkaian kebijakan baru untuk memperkuat internasionalisasi Renminbi (RMB), termasuk mekanisme yang memudahkan bank sentral asing memperoleh likuiditas yuan. Menurut Reuters, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang China untuk memperluas penggunaan yuan dalam sistem keuangan global tanpa harus bergantung pada dominasi dolar Amerika Serikat.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa persaingan mata uang pada abad ke-21 tidak lagi hanya ditentukan oleh nilai tukar atau besarnya cadangan devisa. Kemudian yang mulai menjadi penentu adalah siapa yang mampu membangun jaringan pembayaran, menyediakan likuiditas, dan menciptakan kepercayaan agar mata uangnya digunakan oleh negara lain. Dengan kata lain, yang sedang diperebutkan bukan sekadar status mata uang, melainkan infrastruktur yang menopang sistem moneter internasional.

Structural power dalam buku States and Markets, Susan Strange menjelaskan bahwa kekuatan suatu negara tidak hanya berasal dari kemampuan memproduksi barang atau mengembangkan kekuatan militer, tetapi juga dari kemampuannya membentuk struktur yang menjadi tempat negara lain berinteraksi. Salah satu struktur yang paling menentukan adalah sistem keuangan internasional. Negara yang mampu membangun aturan, jaringan, dan institusi keuangan akan memiliki pengaruh yang bertahan lebih lama dibandingkan negara yang hanya mengandalkan kekuatan ekonomi semata.

Selama ini, banyak pembahasan mengenai internasionalisasi yuan selalu diarahkan pada pertanyaan apakah mata uang tersebut mampu menggantikan dolar Amerika Serikat. Cara pandang seperti itu sebenarnya terlalu menyederhanakan persoalan. China tampaknya menyadari bahwa dominasi dolar tidak dibangun dalam waktu singkat. Posisi tersebut lahir dari kombinasi kekuatan ekonomi, kedalaman pasar keuangan, kepercayaan terhadap institusi, serta jaringan pembayaran internasional yang berkembang selama puluhan tahun. Karena itu, Beijing tidak memilih jalan konfrontasi, melainkan membangun fondasi yang memungkinkan yuan semakin mudah digunakan dalam aktivitas ekonomi lintas negara.

Pengaruh tidak selalu lahir dari kemampuan memaksa negara lain, tetapi dari kemampuan membangun sistem yang membuat negara lain memilih untuk ikut menggunakannya. Dalam konteks ini, semakin banyak bank sentral, lembaga keuangan, dan pelaku usaha yang memiliki akses terhadap yuan, semakin besar pula peluang mata uang tersebut menjadi bagian dari aktivitas ekonomi internasional.

Jejak baru yuan juga terlihat melalui perluasan kerja sama currency swap antara People’s Bank of China (PBOC) dengan berbagai bank sentral di dunia. Perjanjian tersebut memungkinkan kedua negara saling menyediakan likuiditas dalam mata uang masing-masing tanpa harus terlebih dahulu menggunakan dolar Amerika Serikat. Menurut data resmi People’s Bank of China, jaringan currency swap China telah menjangkau puluhan bank sentral di berbagai kawasan, mulai dari Asia, Timur Tengah, Amerika Latin, hingga Afrika. Meskipun tidak selalu digunakan secara rutin, keberadaan mekanisme tersebut memperlihatkan bahwa Beijing sedang membangun fondasi keuangan yang dapat digunakan ketika kebutuhan likuiditas meningkat.

Perubahan serupa juga terlihat pada sistem pembayaran internasional. Selain memanfaatkan jaringan keuangan yang telah ada, China mengembangkan Cross-border Interbank Payment System (CIPS) sebagai infrastruktur pembayaran lintas batas yang mendukung transaksi menggunakan yuan. Berbeda dengan anggapan bahwa CIPS dibangun untuk menggantikan Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT), banyak pengamat justru melihatnya sebagai upaya memperluas pilihan infrastruktur pembayaran internasional. Dengan adanya sistem tersebut, transaksi berbasis yuan menjadi lebih efisien dan tidak selalu harus bergantung pada mekanisme pembayaran yang selama ini didominasi mata uang dolar.

Perlahan tetapi pasti, perkembangan tersebut mulai tercermin dalam penggunaan yuan di tingkat global. International Monetary Fund (IMF) memasukkan yuan ke dalam keranjang Special Drawing Rights (SDR) pada 2016, menandai pengakuan bahwa yuan telah memenuhi kriteria sebagai salah satu mata uang internasional. Sementara itu, data Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication (SWIFT) menunjukkan bahwa penggunaan yuan dalam pembayaran lintas negara terus mengalami perkembangan, meskipun porsinya masih berada di bawah dolar Amerika Serikat dan euro. Fakta ini memperlihatkan bahwa perjalanan internasionalisasi yuan masih panjang, tetapi arahnya semakin jelas.

Namun, tantangan yang dihadapi China juga tidak ringan. Kepercayaan terhadap mata uang internasional tidak hanya ditentukan oleh besarnya perdagangan atau investasi, tetapi juga oleh keterbukaan pasar keuangan, kepastian hukum, dan kebebasan arus modal. Selama kontrol modal masih menjadi bagian dari kebijakan ekonomi China, ruang ekspansi yuan sebagai mata uang cadangan global akan tetap menghadapi berbagai keterbatasan. Karena itu, pembangunan infrastruktur moneter harus diiringi dengan peningkatan kepercayaan terhadap sistem keuangan domestik.

Di sinilah strategi China menjadi menarik di mana Beijing tampaknya tidak berusaha menciptakan perubahan secara revolusioner. Pendekatan yang dipilih justru bersifat bertahap, yakni memperluas penggunaan yuan melalui perdagangan, memperkuat kerja sama dengan bank sentral, membangun sistem pembayaran sendiri, dan menyediakan instrumen likuiditas yang semakin mudah diakses. Langkah-langkah tersebut mungkin tidak langsung mengubah struktur moneter internasional, tetapi sedikit demi sedikit memperluas ruang bagi yuan dalam aktivitas ekonomi global. China mungkin belum menggantikan posisi dolar Amerika Serikat, tetapi jejak yang sedang dibangunnya menunjukkan bahwa masa depan sistem moneter global akan semakin ditandai oleh hadirnya lebih dari satu pusat kekuatan keuangan.