Protes Masif di Suriah Akibat Keputusan Menaikkan Harga Minyak

Pada 14 September 2026, masyarakat Suriah turun ke jalan untuk melakukan protes terhadap keputusan Pemerintah Transisi Suriah (STG) untuk menaikkan harga bensin RON 95 sebesar 28%, diesel sebesar 40%, dan bensin RON 90 sebesar 26%. Masyarakat menganggap kenaikan harga BBM dan diesel sebagai kebijakan yang salah karena hal tersebut akan memberikan dampak negatif terhadap rekonstruksi nasional dan kehidupan sehari-hari warga. Selain melancarkan protes terhadap kenaikan harga bahan bakar, masyarakat juga menggunakan protes ini untuk menyampaikan keluh kesal mereka terhadap harga bahan pokok yang terlalu meahal. Dilansir dari The Cradle, protes masif telah meletus di berbagai daerah seperti Idlib, Aleppo, Hama, Deir Ezzor, Raqqa, bagian dari jalan raya Damaskus-Aleppo, dan Al-Hasakah.

Menanggapi demonstrasi ini, Menteri Energi Mohammad al-Bashir menyatakan bawa keputusan untuk menaikkan harga bahan bakar diberikan akibat dari berbagai faktor seperti harga energi yang meningkat di seluruh dunia serta perbaikan dan pemeriksaan Kilang Baniyas. Menteri al-Bashir menambahkan saat ini Suriah membutuhkan setidaknya 325 ribu barel per hari (bpd) untuk memenuhi kebutuhan domestik sementara dengan fasilitas yang ada, negara hanya mampu memproduksi 102 ribu bpd. Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Energi Suriah Abdul Hamid Salat menegaskan bahwa kenaikan harga ini bersifat sementara dan harga barang pokok seperti roti tidak akan mengalami perubahan. Di sisi lain, Parlemen Nasional Suriah menanggapi perkembangan ini dengan memanggil Menteri Energi al-Bashir untuk memberikan pernyataan terhadap kebijakan tersebut pada Kamis 17 September 2026. Panggilan ini diberikan berdasarkan dua dasar hukum yakni pasal 30 deklarasi konstitusi Suriah dan pasal 168 dari peraturan internal Parlemen Nasional Suriah.

Protes masif ini merupakan salah satu tantangan paling signifikan yang dihadapi oleh STG pasca kemenangan mereka terhadap rezim Bashar Al-Assad pada 8 Desember 2024. Menurut analis Institut Karam Shaar Vittorio Maresca di Serracapriola, isu energi memiliki keterkaitan tinggi dengan biaya hidup dan bisnis masyarakat Suriah. Vittorio menambahkan bahwa tantangan ini hanya bisa diatasi dengan menunjukkan hasil nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat setempat.