Bangladesh Bentuk Dewan Upah usai Buruh Demo Tuntut Gaji Naik
Ribuan buruh pabrik garmen berunjuk rasa menuntut kenaikan gaji seiring biaya hidup yang melonjak di Bangladesh, pada Minggu (1/11) pagi waktu setempat. 30 pabrik pabrik tutup imbas demo ini.
Para pekerja menuntut upah minimum bulanan sebesar 30.000 Taka (Sekitar Rp4,3 juta), lebih dari dua kali lipat upah sekarang yang hanya 12.500 Taka (Sekitar Rp1,8 juta). Mereka mengatakan kenaikan biaya makanan, perumahan, transportasi, dan perawatan kesehatan telah mengikis daya beli secara tajam.
Tak sampai tutup hari, pada Minggu siang, pemerintah Bangladesh menanggapi demo itu dengan membentuk Dewan Upah guna meninjau gaji minimum pekerja terutama garmen.
“Masalah pembentukan dewan upah telah diselesaikan. Tidak akan ada masalah lagi sekarang,” kata penasihat Kementerian Tenaga Kerja dan Ketenagakerjaan, M Sakhawat Hossain Chowdhury, dikutip Al Jazeera.
“Para pekerja harus kembali bekerja dan bekerja dengan lancar,” tambah dia.
Menteri Tenaga Kerja dan Ketenagakerjaan Ariful Haque Chowdhury juga mewanti-wanti bahwa penutupan pabrik yang berkepanjangan dan gangguan produksi bisa menunda pengiriman ekspor dan pembayaran dari pembeli internasional, sehingga menciptakan kesulitan lebih lanjut bagi produsen dan pekerja.
Industri garmen Bangladesh merupakan terbesar di dunia kedua setelah China. Sektor ini menyumbang sekitar 20 persen dari produk domestik bruto.
Namun, produsen garmen mengaku tengah menghadapi tantangan termasuk kenaikan biaya produksi hingga kekurangan gas dan listrik secara berkala.
Meski ada tanggapan dari otoritas Bangladesh dengan membentuk Dewan Upah, unjuk rasa tetap berlanjut di Ibu Kota Dakha. Polisi lalu melakukan tindak kekerasan dengan melempar granat kejut dan meluncurkan gas air mata untuk membubarkan massa.
“Kami yakin tak ada alasan memblokir jalan dan memicu penderitaan publik setelah dewan upah dibentuk,” kata Wakil Kepolisian Daerah Metropolitan Dhaka Mohammad Mohidul Islam, dikutip Daily Star.
Kepolisian juga berusaha menjelaskan kepada para demonstran bahwa mungkin ada unsur yang berniat jahat atau kelompok anti negara yang terlibat dan memperburuk ketertiban dan hukum. “Karena mereka menolak untuk pergi, kami menggunakan granat suara dan gas air mata untuk membubarkan mereka.” Ungkap Kepolisian.
Meski demikian, Mohidul memastikan tak ada personel polisi maupun demonstran yang terluka imbas tindakan tersebut. Lalu lintas juga sudah berjalan normal.
Menurut keterangan polisi, demo itu sempat mengganggu lalu lintas di beberapa daerah, termasuk Mirpur-10, Mirpur-11, dan Mirpur-14.
Aksi unjuk rasa buruh yang terjadi di Bangladesh mencerminkan besarnya tekanan ekonomi yang dihadapi para pekerja di tengah meningkatnya biaya hidup. Selain bertanggung jawab meninjau tuntutan buruh, pemerintah dan pelaku industri perlu menjaga stabilitas produksi dan keberlangsungan sektor garmen yang menjadi salah satu penopang perekonomian Bangladesh.