Gudang Amunisi Militer Suriah di Idlib Meledak

Pada 10 September 2026, Kementerian Pertahanan (Kemhan) Suriah menyatakan bahwa telah terjadi sebuah ledakan besar di sebuah gudang amunisi yang berada dekat Kota Sarmada, Provinsi Idlib. Akibat dari ledakan ini, setidaknya 14 orang tewas dan 11 mengalami luka berat hingga sedang. Dilansir dari Tempo, ledakan gudang amunisi ini cukup besar karena bangunan yang digunakan menyimpan banyak amunisi dan bahan peledak yang digunakan oleh kelompok milisi Hayat Tahrir Al-Sham (HTS) dan sekutunya selama perang saudara Suriah berlangsung. Tidak lama setelah ledakan ini terjadi, paramedis dan pemadam kebakaran Suriah meluncur ke lokasi namun akibat dari banyaknya ledakan sekunder, mereka terpaksa menunda operasi penyelamatan korban dan pemadaman api.

Setelah ledakan gudang amunisi selesai, otoritas setempat melancarkan investigasi untuk mengetahui penyebab dari kejadian tersebut. Berdasarkan pernyataan yang diberikan oleh Ketua Direktorat Penanganan Bencana wilayah Idlib Walid Aslan, terdapat indikasi awal bahwa peristiwa ini terjadi akibat dari ledakan amunisi kecil yang berkembang menjadi detonasi besar. Pernyataan ini memiliki nilai kebenaran karena seorang warga setempat, Ahmad Faour, mengklaim bahwa dia sempat mendengar beberapa ledakan kecil sebelum gudang tersebut mengalami detonasi besar. Dalam sebuah wawancara oleh media setempat, Ahmad menekankan bahwa gudang senjata seharusnya tidak berada di area publik karena jika terjadi ledakan serpihan dan gelombang kejutnya dapat melukai masyarakat yang sedang melakukan aktivitas sehari-hari.

Ledakan ini merupakan bagian dari permasalahan lebih besar yang dihadapi oleh Pemerintah Transisi Suriah (STG) pasca runtuhnya rezim Bashar Al-Assad pada 8 Desember 2024 yaitu kontaminasi peledak dan amunisi gagal meledak di sebagian besar wilayah negara mereka. Kontaminasi ini telah mengakibatkan banyak korban jiwa dalam periode 2025-2026 dan hal ini dapat dilihat dengan kejadian serupa yang terjadi di pinggiran Kota Idlib pada Agustus 2025 dan Kafr Takharim pada November 2025. Walaupun terdapat desakan dari lembaga swadaya masyarakat (LSM/NGO) untuk meningkatkan upaya pembersihan peledak dan amunisi gagal meledak, Palang Merah Internasional (ICRC) menekankan hal ini akan memakan waktu sangat.