‘Monster Bohai’ dari China: Pesawat yang Menghidupkan Kembali Teknologi Perang Dingin?

Pada awal Juli 2025, gambar-gambar pesawat terbang yang misterius dan berlayar di lautan mulai beredar di media sosial China. Pesawat ini merupakan kendaraan futuristik yang ramping dan meluncur hanya beberapa meter di atas Laut Bohai. Dijuluki “Monster Bohai,” pesawat dengan efek sayap di darat (wing in ground effect atau WIG) ini menandai upaya ambisius China untuk menghidupkan kembali konsep era Soviet: kapal terbang yang berada di antara pesawat terbang dan kapal angkatan laut.

Meskipun penampakan ini telah memicu rasa ingin tahu dan spekulasi, hal ini juga menimbulkan pertanyaan: Apakah pesawat ini merupakan upaya pengembangan teknologi untuk ambisi maritim China atau upaya realisasi mimpi sejak Perang Dingin yang belum pernah terwujud?

Pesawat dengan efek sayap di dalam tanah mirip milik Uni Soviet

Pesawat dengan efek sayap di tanah, juga dikenal sebagai ekranoplans (dari bahasa Rusia), mengeksploitasi fenomena aerodinamika yang dikenal sebagai “efek darat.” Dengan kemampuan terbang hanya beberapa meter di atas permukaan datar seperti air, pesawat ini mengalami pengurangan hambatan dan peningkatan daya angkat, sehingga memungkinkan pesawat ini untuk bergerak lebih cepat dan lebih efisien daripada kapal tradisional dan sering kali lebih ‘senyap’ daripada pesawat lainnya.

Konsep ini berawal dari Monster Laut Kaspia Uni Soviet pada 1960-an, raksasa sepanjang 92 meter dan memiliki kapasitas lepas landas hingga seberat 544 ton. Pesawat ini dirancang untuk mengangkut pasukan dan rudal dengan cepat dan menghindari radar. Terlepas dari potensinya yang sangat besar, program Soviet ini akhirnya dihentikan setelah kecelakaan fatal pada 1980 dan tantangan logistik yang membuat produksinya tidak dapat dilanjutkan. Meskipun setelahnya terdapat beberapa proyek yang dikembangkan beberapa negara, namun tidak ada yang mampu menyamakan ukuran pesawat ini. China mungkin akan melanjutkan apa yang ditinggalkan Soviet.

Penampakan Bohai

Para pengamat mencatat adanya badan pesawat berbentuk perahu, ekor yang menyatu dengan bentuk V, empat mesin yang dipasang di atas (kemungkinan jet atau turboprop), sayap yang mengapung, dan lambung pesawat yang berundak. Skala pesawat ini disebut-sebut mirip dengan AG600 milik China, pesawat amfibi terbesar di dunia. Para analis militer menilai bahwa Bohai Monster dapat digunakan untuk pengiriman kargo berkecepatan tinggi, evakuasi personel, pencarian dan penyelamatan, sebagai kapal perang anti-kapal selam, dan transportasi siluman di zona maritim yang diperebutkan. Kemampuan ini akan sangat relevan di Laut China Selatan dan Selat Taiwan, di mana pengerahan yang cepat, siluman, dan kelincahan semakin penting.

Terlepas dari pengungkapan dramatis Monster Bohai, perannya di masa depan masih belum pasti. Seperti yang ditunjukkan oleh para ahli, Anil Chopra, teknologi ini hadir dengan kelebihan dan kekurangan tersendiri. Terdapat beberapa kelebihan seperti: memiliki kemampuan dan cakupan di bawah radar, lebih cepat dari kapal, lebih hemat bahan bakar daripada pesawat terbang, ideal untuk logistik, terutama di lingkungan yang sulit dijangkau, dan bisa sulit ditargetkan oleh pertahanan udara tradisional. Namun juga terdapat beberapa kelemahan yakni kemampuan manuver yang buruk di lingkungan yang padat atau kompleks, sangat sensitif terhadap kondisi laut dan kondisi cuaca, membutuhkan infrastruktur khusus seperti hanggar besar, rentan jika dipaksa untuk keluar dari ketinggian efek tanah, dan masih dapat dideteksi oleh sistem radar sudut rendah.

“Meskipun mereka menawarkan siluman dan kecepatan, WIG tidak dapat beroperasi secara bebas di laut yang berombak atau medan pantai yang kompleks,” catat Anil Chopra dari Pusat Studi Kekuatan Udara. “Keterbatasan ini dapat menjadi sangat penting dalam skenario seperti serangan amfibi ke Taiwan.”

Alat untuk Laut China Selatan – atau Taiwan?

Analis berpandangan bahwa China mungkin membayangkan WIG sebagai alat strategis untuk meningkatkan logistik di antara pos-pos pulau-pulau di Laut China Selatan. Laporan menunjukkan bahwa WIG yang berbasis di Hainan dapat mencapai titik mana pun di wilayah tersebut dalam waktu empat jam – jauh lebih cepat daripada kapal mana pun.

Di Selat Taiwan, analis seperti H.I. Sutton berspekulasi bahwa China mungkin akan menggunakan WIG untuk pendaratan pasukan secara diam-diam. Desain historis Soviet mampu mengantarkan ribuan pasukan ke pantai dalam hitungan menit, menghindari radar. Akan tetapi, garis pantai Taiwan yang terjal, pertahanan yang kuat, dan kondisi laut yang tidak dapat diprediksi membuat operasi semacam itu sangat berisiko.

Laporan pada November 2024 dari US Naval War College memperingatkan bahwa kendala cuaca di selat itu membatasi hari pendaratan yang cocok menjadi sekitar sepuluh hari per bulan. Dikombinasikan dengan kemampuan serangan presisi Taiwan dan kapal selam amfibi China yang terbatas, WIG mungkin menjadi liabilitas alih-alih aset selama konflik dengan intensitas tinggi.

Potensi Tempur atau sekadar proyek gagal lainnya?

Sebagian pengamat menilai bahwa China mampu mengembangkan versi bersenjata dari WIG dan mampu meluncurkan rudal dengan cepat, namun banyak yang meragukan efektivitasnya. Analisis militer, H.I. Sutton, menilai kehadiran rudal udara seperti KD-21 menjadikan WIG tempur sebagai ‘jawaban rumit untuk masalah yang sudah selesai.’ Sejarah pun melihat bahwa Uni SOviet pernah mengembangkaan ekranoplan kelas Lun, namun akhirnya lebih mengandalkan pesawat Tu-22 yang lebih praktis dan efisien.

Nasib pesawat Monster Bohai dari China akan ditentukan lebih dari sekadar teknologi, namun juga kemampuan bertahan, kemudahan dalam beroperasi, dan adaptasi di medan sesungguhnya karena jika gagal, maka Monster Bohai China hanya akan menjadi ambisi yang karam.