China di Balik Gemerlap Kota
Setiap pagi, jutaan pekerja migran dari pedesaan China bergerak menuju kota-kota industri yang menjadi simbol kebangkitan ekonomi nasional, membawa tenaga mereka ke pabrik, proyek konstruksi, pusat logistik, dan berbagai sektor yang membuat China berubah menjadi pusat produksi dunia. Mereka adalah manusia yang menggerakkan mesin pertumbuhan, tetapi keberadaan mereka sering tidak terlihat dalam narasi keberhasilan ekonomi yang menampilkan gedung pencakar langit, kawasan bisnis modern, dan kemajuan teknologi. Di balik transformasi tersebut terdapat kontradiksi sosial yang semakin sulit disembunyikan, yaitu sebagian besar modernitas perkotaan China dibangun oleh tenaga kerja yang tidak selalu memperoleh hak sosial yang setara di ruang tempat mereka bekerja. Kisah pekerja migran ini memperlihatkan sisi lain dari kebangkitan China, bahwa negara tersebut berhasil memindahkan manusia dalam skala terbesar dalam sejarah modern, tetapi masih menghadapi persoalan bagaimana mengubah mobilitas ekonomi menjadi kesetaraan sosial.
Salah satu mekanisme utama yang membentuk kontradiksi tersebut adalah sistem Hukou, yaitu sistem registrasi rumah tangga yang menghubungkan hak sosial seseorang dengan wilayah administratif asalnya. Dalam praktiknya, sistem ini menciptakan bentuk segregasi sosial legal karena seorang pekerja dari desa dapat bekerja selama bertahun-tahun di kota besar tetapi tidak memperoleh akses yang sepenuhnya sama terhadap pendidikan, layanan kesehatan, dan berbagai fasilitas sosial yang tersedia bagi penduduk kota resmi. Seorang buruh migran dapat membangun apartemen mewah di Beijing atau mengoperasikan industri modern di Shenzhen, tetapi status administratifnya tetap sebagai warga kelas dua dalam struktur sosial perkotaan. Dari perspektif Social Exclusion, persoalan ini bukan sekadar ketimpangan pendapatan, melainkan mekanisme institusional yang membatasi kemampuan kelompok tertentu untuk menikmati manfaat penuh dari pembangunan. China membutuhkan tenaga kerja desa untuk membangun kota, tetapi sistem yang sama membuat sebagian pekerja tersebut tetap berada di luar lingkaran penuh kesejahteraan perkotaan.
Fenomena tersebut tidak muncul secara kebetulan, melainkan berkaitan dengan cara China membangun kekuatan ekonominya melalui pemisahan fungsi antara sektor modern dan sektor tradisional. Dalam kerangka Dual Economy Model, transformasi ekonomi sering berlangsung ketika sektor industri perkotaan berkembang dengan menyerap tenaga kerja dari wilayah pedesaan yang memiliki surplus tenaga kerja. China memanfaatkan mekanisme tersebut secara luar biasa efektif dengan menjadikan migrasi buruh sebagai bahan bakar industrialisasi yang mempercepat pertumbuhan manufaktur. Namun keberhasilan ekonomi tersebut memiliki biaya sosial karena perpindahan tenaga kerja tidak selalu diikuti perpindahan hak sosial dan keamanan hidup. Kota memperoleh keuntungan dari tenaga kerja murah dan produktif, sementara desa kehilangan sebagian besar generasi muda yang menjadi penggerak utama kehidupan sosial lokal. Ketimpangan tersebut menunjukkan bahwa modernisasi China tidak hanya merupakan kisah tentang penciptaan kekayaan, tetapi juga tentang bagaimana keuntungan pembangunan didistribusikan di antara kelompok masyarakat yang berbeda.
Dampak paling manusiawi dari model tersebut terlihat melalui fenomena left-behind children, yaitu anak-anak pedesaan yang tumbuh tanpa kehadiran penuh orang tua karena ayah atau ibu mereka harus bekerja jauh di kota. Fenomena ini melibatkan puluhan juta anak di China, dengan berbagai kajian memperkirakan jumlahnya berada di kisaran sekitar 60 juta tergantung metode penghitungan yang digunakan. Mereka sering diasuh oleh kakek dan nenek, hidup dalam jarak emosional dengan orang tua, serta menghadapi persoalan perkembangan psikologis, pendidikan, dan hubungan keluarga. Masalah ini menunjukkan bahwa biaya pembangunan tidak selalu muncul dalam bentuk angka kemiskinan atau penurunan pendapatan, tetapi juga melalui perubahan struktur keluarga yang sulit dipulihkan. Negara dapat membangun jalan, sekolah, dan jaringan internet di pedesaan, tetapi tidak mudah menggantikan hubungan sosial yang hilang ketika sebuah generasi tumbuh dalam kondisi terpisah dari orang tua akibat tuntutan ekonomi.
Sementara itu, generasi pekerja muda yang berhasil masuk ke kota juga menghadapi tekanan sosial yang berbeda. Mereka memang memperoleh akses terhadap peluang ekonomi yang lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya, tetapi kehidupan perkotaan China menghadirkan kompetisi yang semakin melelahkan. Budaya kerja ekstrem yang dikenal sebagai 996, yaitu bekerja dari pukul 9 pagi hingga 9 malam selama enam hari dalam seminggu, menjadi simbol tekanan produktivitas yang dialami sebagian pekerja sektor teknologi dan industri (Supreme People’s Court of the People’s Republic of China & Ministry of Human Resources and Social Security, 2021). Di tengah meningkatnya biaya hidup kota dan persaingan karier yang semakin ketat, muncul fenomena neijuan atau involusi, yaitu kondisi ketika masyarakat terus berkompetisi semakin keras tetapi memperoleh peningkatan manfaat yang semakin kecil. Sebagian anak muda kemudian merespons tekanan tersebut melalui gerakan tangping atau memilih “berbaring” sebagai bentuk penolakan pasif terhadap perlombaan sosial yang dianggap tidak memberikan kepastian masa depan.
Pemerintah China menyadari bahwa persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan mempertahankan pertumbuhan ekonomi tinggi, sehingga Beijing mendorong berbagai program revitalisasi pedesaan, reformasi layanan publik, dan upaya mengurangi kesenjangan antara kota dan desa. Namun tantangan terbesar bukan hanya menghadirkan infrastruktur fisik, melainkan mengubah struktur kesempatan yang selama puluhan tahun membuat kota menjadi pusat mobilitas sosial. Sebuah desa dapat memiliki jalan yang baik, koneksi internet cepat, dan fasilitas modern, tetapi tetap kehilangan generasi muda jika pendidikan berkualitas, pekerjaan profesional, dan peluang peningkatan status sosial masih terkonsentrasi di perkotaan. Masalah pedesaan China bukan semata tentang keterbelakangan wilayah, melainkan tentang siapa yang memiliki akses terhadap masa depan.
Persoalan ini memiliki implikasi geopolitik karena kekuatan nasional tidak hanya bergantung pada kapasitas ekonomi dan teknologi, tetapi juga pada kemampuan negara menjaga stabilitas sosial internal. China telah berhasil menciptakan salah satu transformasi ekonomi terbesar dalam sejarah dengan mengangkat ratusan juta orang keluar dari kemiskinan dan membangun pusat industri yang mengubah ekonomi dunia. Namun model tersebut kini menghadapi fase baru ketika manfaat pertumbuhan tidak lagi cukup untuk menjawab seluruh tuntutan masyarakat. Negara besar membutuhkan lebih dari sekadar produktivitas tinggi dan infrastruktur modern. Negara tersebut membutuhkan hubungan sosial yang membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari proyek nasional yang sama. Jika kesenjangan antara pusat dan pinggiran, antara pekerja migran dan penduduk kota, serta antara generasi muda dan sistem ekonomi terus melebar, maka tekanan sosial dapat menjadi hambatan strategis bagi ambisi global China.
Kebangkitan China selama ini dibangun melalui kemampuan mengubah manusia, ruang, dan sumber daya menjadi kekuatan ekonomi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Akan tetapi, ukuran keberhasilan berikutnya tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak kota baru yang dapat dibangun atau seberapa tinggi pertumbuhan ekonomi dapat dipertahankan, melainkan oleh kemampuan negara tersebut menyelesaikan kontradiksi sosial yang muncul dari model pembangunannya sendiri. China telah membuktikan bahwa negara mampu menciptakan modernitas perkotaan yang mengubah dunia, tetapi tantangan yang lebih sulit adalah memastikan bahwa jutaan manusia yang membangun modernitas tersebut tidak tetap menjadi kelompok yang hanya dibutuhkan ketika ekonomi membutuhkan tenaga mereka. Masa depan kekuatan China akan sangat bergantung pada kemampuannya mengubah pertumbuhan ekonomi menjadi keterikatan sosial yang lebih inklusif, karena kekuatan nasional yang bertahan lama tidak hanya dibangun dari gedung dan industri, tetapi juga dari hubungan antara negara dan masyarakat yang menopangnya.