Kelompok milisi Houthi Yaman memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak ikut campur dalam perangnya melawan Arab Saudi jika tak ingin menerima “balasan yang cepat dan menyakitkan”.
Dalam pernyataan kepada AFP pada Senin (12/10), anggota biro politik Houthi, Mohammed Al Bukhaiti, menegaskan seluruh kepentingan AS di kawasan akan menjadi target serangan Houthi apabila AS berani berpartisipasi.
“Jika AS terlibat dalam agresi terhadap Yaman, kami tidak akan menunda-nunda keputusan untuk membalas. Akan ada balasan cepat dan menyakitkan yang menargetkan AS serta seluruh kepentingannya di kawasan ini,” kata Al Bukhaiti.
Presiden AS Donald Trump pada Senin mengatakan sedang mempertimbangkan untuk membantu Arab Saudi setelah Houthi menyerang bandara di ibu kota Riyadh pada Sabtu (10/10) hingga menewaskan 13 orang. “Kelompok Houthi bertindak sangat buruk. Mereka bertindak sangat buruk, tidak baik,” ujar Trump.
Houthi menggempur Saudi gila-gilaan setelah menuduh Riyadh dalang di balik serangan di bandara Sanaa, Yaman, pada 13 Juli lalu. Permusuhan antara kedua pihak sendiri meletus setelah Saudi turun tangan membantu pemerintah Yaman melawan Houthi, pascaperang saudara pecah di negara tersebut pada 2014 lalu.
Sejak peristiwa di bandara Sanaa, Houthi menyerang fasilitas minyak Saudi, kapal-kapal tanker, serta pusat transportasi Negeri Minyak sebagai balasan. Sejumlah bandara juga turut jadi sasaran.
Serangan di Bandara Internasional King Khalid pada Sabtu kemarin dinilai cukup mematikan dimana lebih belasan orang tewas dan ratusan lainnya terluka. Sejumlah jemaah umrah bahkan menjadi korban karena kejatuhan reruntuhan bangunan.
Pada Senin malam, suara ledakan dilaporkan kembali terdengar di ibu kota Saudi seiring laporan bahwa Houthi kembali menargetkan bandar udara.
Sementara itu, koalisi pimpinan Saudi mengklaim telah mencegat dua rudal Houthi di wilayah selatan.