Latihan Militer Iran–Rusia–China Dekat Selat Hormuz, Bentuk Polarisasi Kekuatan di Timur Tengah
Rusia dan China kembali menggelar latihan militer gabungan bersama Iran di tengah meningkatnya ketegangan dengan Amerika Serikat (AS) akibat peningkatan kehadiran militernya di kawasan Timur Tengah. Hal ini yang kemudian ditafsirkan sebagai tekanan terhadap Teheran.
Menurut media Al Jazeera, sumber informasi menyebutkan bahwa Angkatan Laut Iran akan mengadakan manuver militer di Laut Oman dan perairan Samudera Hindia dalam beberapa hari mendatang. Latihan ini akan melibatkan pasukan dari Angkatan Bersenjata Iran, Angkatan Laut Garda Revolusi, serta kontingen militer dari Rusia dan China.
Sementara itu, media Iran seperti Nour News melaporkan bahwa latihan gabungan tersebut akan berlangsung di sekitar Selat Hormuz. Lokasi ini merupakan jalur strategis penghubung Teluk Persia dengan Samudera Hindia.
Mereka juga menyelenggarakan latihan dengan penggunaan amunisi sungguhan di zona berbentuk lingkaran dengan radius sekitar lima mil laut di sekitar Selat Hormuz. Selama periode itu, ruang udara dari permukaan hingga ketinggian 25.000 kaki dinyatakan terbatas dan berbahaya bagi penerbangan sipil.
Latihan trilateral ini terjadi di tengah meningkatnya ancaman dan tekanan dari AS terhadap Iran, yang secara signifikan memperkuat kehadiran militernya di kawasan. Teheran sendiri telah memperingatkan bahwa setiap serangan terhadapnya akan dibalas.
Di sisi lain, Washington ikut mengumumkan rencana menggelar latihan militer besar-besaran di Timur Tengah dalam beberapa hari mendatang. Menurut laporan internasional, Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan akan melakukan serangkaian latihan kesiapan udara yang berlangsung beberapa hari, dengan tujuan menunjukkan kemampuan pengerahan, redistribusi, dan pemeliharaan kekuatan udara dalam wilayah operasinya. Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperkuat respons militer, kerja sama regional, serta kesiapan personel dan aset militer AS.
Detail rinci mengenai waktu pelaksanaan, lokasi spesifik, dan jenis kekuatan militer yang dilibatkan belum diumumkan secara terbuka. Meskipun demikian, latihan tersebut dipandang sebagai sinyal bahwa AS mampu mengerahkan kekuatan militer secara cepat di tengah meningkatnya ketegangan dengan Iran.
CENTCOM sebelumnya menegaskan bahwa gugus tugas kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln telah tiba di kawasan bersama puluhan pesawat tempur dan sekitar 5.000 personel, serta dikawal oleh kapal perusak berpeluru kendali yang dilengkapi sistem pertahanan udara. Selain itu, satu skuadron jet tempur F-15E Strike Eagle juga dipindahkan ke kawasan tersebut, sedangkan Inggris mengerahkan jet tempur Typhoon dalam peran pertahanan.
Penempatan USS Abraham Lincoln ini menjadi penempatan terbaru kapal induk di bawah tanggung jawab CENTCOM sejak kapal sebelumnya, USS Gerald Ford, dikerahkan ke Kawasan Karibia pada Oktober lalu dalam operasi militer terkait Venezuela.