China dan AS Kembali Bersaing ke Bulan dalam “Space Race”
Persaingan antara China dan Amerika Serikat kembali memanas, kali ini dalam perlombaan menuju Bulan. Laporan media Inggris The Guardian menyoroti bagaimana kedua negara kini berlomba tidak hanya untuk mendaratkan manusia, tetapi juga membangun kehadiran permanen di Bulan. Amerika Serikat melalui program Artemis yang dipimpin National Aeronautics and Space Administration (NASA) menargetkan pendaratan astronaut pada sekitar tahun 2028. Program ini didukung oleh perusahaan swasta seperti SpaceX dan Blue Origin. Namun, menurut laporan tersebut, proyek Artemis menghadapi tantangan berupa perubahan kebijakan politik serta tekanan anggaran yang kerap berubah.
Di sisi lain, China melalui badan antariksa nasionalnya, China National Space Administration (CNSA), menunjukkan kemajuan yang lebih stabil. China sebelumnya sukses menjalankan misi Chang’e, termasuk pengambilan sampel dari Bulan. Pemerintah China menargetkan pendaratan manusia di Bulan sekitar tahun 2030. Direktur Jenderal European Space Agency (ESA), Josef Aschbacher, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa eksplorasi bulan kini memasuki fase baru, yaitu pembangunan infrastruktur jangka panjang. Ia menyebut bahwa “perlombaan saat ini bukan hanya tentang siapa yang tiba lebih dulu, tetapi siapa yang mampu bertahan dan beroperasi secara berkelanjutan.”
Sementara itu, analis kebijakan luar angkasa dari Secure World Foundation, Victoria Samson, menilai pendekatan China yang terpusat dan konsisten memberi keuntungan tersendiri. “China bergerak lebih terencana dan stabil, sementara program AS lebih kompleks karena melibatkan banyak aktor,” ujarnya dikutip oleh The Guardian. Persaingan ini juga memiliki dimensi strategis. Selain eksplorasi ilmiah, Bulan dinilai memiliki potensi sumber daya seperti air es yang dapat digunakan sebagai bahan bakar masa depan. Hal ini menjadikan Bulan sebagai titik penting dalam pengembangan ekonomi luar angkasa. Dengan meningkatnya investasi dan ambisi kedua negara, para pengamat menilai bahwa dekade ini akan menjadi penentu arah dominasi manusia di luar angkasa. Perlombaan ke Bulan kini tidak lagi sekadar simbol prestise, melainkan bagian dari strategi kekuatan global jangka panjang.